Latest Post
Showing posts with label ekonomi. Show all posts
Showing posts with label ekonomi. Show all posts
2:26 PM
Sehingga di bab enam Karl Marx menjelaskan tentang teori kelas dimana yang disebabkan oleh sistem pembagian kerja. Di dalam masyarakat terdapat kelas yang menguasai dan kelas yang dikuasai. Namun Karl Marx lebih mengkritik keadaan pada masyarakat kapitalis, yang menurutnya terdapat tiga kelas yaitu, kaum buruh (yang hidup dari upah), kaum pemilik modal (hidup dari laba), dan para tuan tanah yang kemudian menjadi pemilik modal. Pemilik modal dan buruh sebenarnya saling membutuhkan namun saling bertentangan karena keduanya memiliki ketergantungan yang tidak seimbang. Menurut Karl Marx buruh adalah kaum yang lemah sedangkan pemilik modal adalah kelompok yang kuat. Buruh bisa hidup hanya jika memiliki pekerjaan yang dberikan oleh pemilik modal, sedangkan pemilik modal hidup dari hasil kerja buruh, sehingga bagi Karl Marx hal ini merupakan sistem kerja eksploitasi, pemilik modal dianggap sebagai penindas dan kaum buruh dianggap sebagai kaum tertindas. Dalam pandangan Karl Marx hubungan kerja dalam sistem kapitalis tidak stabil, karena pemilik modal yang menguasai ekonomi mereka dapat memenangkan kepentingan mereka atas kepentingan buruh, tetapi apabila kekuatan kelas atas berkurang dan buruh mampu memenangkan kepentingan mereka maka akan terjadi revolusi dan hak milik dihapuskan. Menurut Karl Marx perubahan hanya bisa dilakukan dengan revolusi.
Hal ini dapat dibagi ke dalam tiga unsur yaitu, pertama segi struktural lebih besar perannya dibandingkan kesadaran dan moralitas, kedua kepentingan yang berbeda akan menimbulkan sikap yang berbeda terhadap perubahan, dan ketiga bagi Karl Marx kemajuan dalam susunan masyarakat hanya dapat dilakukan dengan jalan kekerasan, yaitu revolusi. Selanjutnya Karl Marx mengkritik negara dan agama yang baginya tidak memihak pada kaum buruh. Negara menurut Karl Marx merupakan alat bagi pemilik modal yang merupakan penguasa dan pengendali ekonomi untuk melegalkan hubungan kerja yang tidak adil dan tidak stabil sehingga kaum pemilik modal diuntungkan, perwujudannya berupa ideologi-ideologi. Ideologi kapitalis yang membuka kesempatan yang sama bagi siapapun untuk berusaha maju dan mendapatkan prestasi telah mengabaikan kenyataan bahwa semua manusia tidak memiliki kekuatan yang sama termasuk dalam aspek ekonomi, sehingga pamilik modal yang diilustrasikan sebagai kaum yang kuat akan selalu menang dan menindas kaum buruh yang lemah. Sedangkan agama hanyalah candu manusia, agama mengajarkan manusia yang “sabar” dan sanggup memikul “salibnya” (keadaan saat itu dimana gereja sangat berpengaruh) telah mengakibatkan manusia menjadi enggan untuk berjuang tetapi memilih untuk menerima kenyataan hidupnya yang tertindas. Dan kritiknya terhadap sejarah yang dianggapnya juga sebagai salah satu bentuk penipuan, diamana para raja dan orang besar lainnya yang kisahnya ditulis dalam buku-buku sejarah, secara terselubung semua itu juga ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu, dalam hal ini mereka yang memiliki modal, dan pengaruh yang kuat.
Karl Marx mengklaim bahwa sosialismenya adalah sosialisme ilmiah karena sosialismenya berdasarkan pengetahuan tentang hukum objektif perkembangan masyarakat, pengetahuan itulah yang disebut pandangan materialis sejarah. Asusmsi dasar pandangan materialis sejarah adalah ”bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka, namun keadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka”. Bagi Karl Marx keadaan manusia adalah tentang cara manusia menghasilkan sesuatu untuk hidup, oleh karena itu untuk memahami sejarah dan arah perkembangannya kita tidak perlu memperhatikan apa yang dipikirkan oleh manusia tetapi bagaimana manusia bekerja , bagaimana ia berproduksi. Singkatnya sejarah manusia ditentukan oleh syarat-syarat produksi material, yang menentukan sejarah adalah materialisme. Pertentangan kelas sosial merupakan jawaban ata segalanya, kesadaran dan cita-cita manusia ditentukan oleh kedudukannya dalam kelas sosial.
Karl Marx membagi lingkup kehidupan manusia dalam dua bagian besar yaitu dasar nyata atau basis dan bangunan atas. Basis adalah bidang produksi kehidupan material dan bangunan atas adalah proses kehidupan sosial, politik dan spiritual, namun kehidupan bangunan atas ditentukan oleh kehidupan dalam basis. Basis ditentukan oleh dua faktor yaitu, tenaga-tenaga produktif (alat-alat kerja, manusia dengan kecakapannya, dan pengalaman dalam produksi/teknologi), dan hubungan-hubungan produksi (pembagian kerja antara manusia yang terlibat dalam proses produksi). Sedangkan Bangunan atas terdiri dari tatanan institusional (lembaga yang mengatur sistem pasar, pendidikan, kesehatan, hukum dan negara), dan tatanan kolektif (sistem kepercayaan, norma, dan nilai-nilai termasuk pandangan dunia, agama, filsafat, moralitas, budaya, seni dan sebagainya).
Bertolak dari dua hal tersebut maka Karl Marx berpandangan bahwa perubahan masyarakat terjadi akibat adanya dinamika dalam basis bukan dalam bangunan atas. Seperti yang telah dijelaskan, bahwa akibat ketidakseimbangan dalam sistem produksi dimana kaum buruh yang tertindas (akibat penindasan membuat orang menjadi progresif dan menginginkan perubahan) apabila mereka semakin kuat maka akan terjadi perubahan berupa revolusi. Karena pertentangan dalam masyarakat akibat adanya sistem hak milik maka Karl Marx berpendapat bahwa bangunan atas bisa berubahapabila struktur hak milik berubah. Perubahan sosial menurutnya haruslah bersifat revolusioner bukan perubahan secara perlahan-lahan karena jika secara perlahan, kita tahu bahwa pemilik modal tidak menginginkan perubahan, mereka akan berusaha untuk menghentikan perubahan agar mereka selalu bisa menjadi pengendali atas buruh yang berujung pada dominasi ekonomi oleh kelompok pemilik modal.
Pada akhirnya, dari semua hasil pemikiran Karl Marx muncul berbagai pertanyaan dari penulis sendiri, apakah ketika hak milik dihapuskan dan semua manusia sama secara ekonomi?. Bukankah pasti ada manusia yang memiliki kelebihan dalam hal ini, karena semua manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda sejak dilahirkan?, jika hak milik dihapuskan dan tidak ada yang menguasai dan yang dikuasai bukankah akan menimbulkan kekacauan? Karena manusia yang ada adalah manusia yang telah terbentuk pola pikirnya oleh sistem yang sebelumnya ada yaitu sistem kapitalis (karena yang ditentang oleh Karl Marx adalah kapitalis), kecuali manusia dilahirkan kembali, itupun susah karena jika ditilik dari sejarah agama dari awal manusia diciptakan keinginan-keinginan manusia akan rasa memiliki sesuatu telah muncul, hal inilah yang menjadi bukti bahwa sekarang ini di seluruh dunia telah mengalami kegagaglan dari teori dan pemikiran Karl Marx, kecuali dihilangkan rasa iri, dengki, dan sebagainya. Saat manusia berusaha untuk bertahan hidup di situlah sebagian besar pemikiran Karl Marx dianggap gagal, binatang saja yang tidak memiliki akal budi bisa saling bunuh hanya untuk mendapatkan makanan. Namun seperti yang saya katakan bahwa tidak sepenuhnya pemikiran Karl Marx tidak bermanfaat bagi manusia, Karl Marx telah menyadarkan kita bahwa sistem kapitalis telah membawa kita pada ketidakadilan dalam segala aspek kehidupan, namun pada hakikatnya dari semua yang dihasilkan oleh manusia termasuk pemikiran manusia tidak ada yang sempurna.
Review Pemikiran Karl Marx
Written By Unknown on March 23, 2013 | 2:26 PM
Pemikiran Karl Marx dapt dikatakan telah bergeser dari politik ke bidang ekonomi, menurutnya keterasingan yang dialami manusia merupakan hasil pekerjaan kapitalis. Secara samar Karl Marx memiliki keyakinan moral, dia memiliki pandangan tentang hakikat manusia dan bagaimana seharusnya manusia diperlakukan. Menurutnya pekerjaan adalah tindakan manusia yang paling dasar yang membuat manusia menjadi nyata sebagai makhluk sosial yang menunjukkan hakikatnya yang bebas dan universal namun juga menjadi penyebab utama keterasingan manusia. Bekerja merupakan tindakan manusia mengambil bentuk alami dan menambahkan bentuk yang dinginkan. Namun yang terjadi adalah manusia bekerja semata-mata karena terpaksa sehingga menyebabkannya terasing. Karl Marx membagi manusia ke dalam dua kelompok, kaum proletar (buruh) dan kaum borjuis (pemilik modal) yang semuanya memiliki kepentingan-kepentingan sendiri. Kaum proletar bekerja untuk mendapatkan upah, sedangkan para borjuis menekan para buruh untuk mendapatkan keuntungan. Menurut Karl Marx kaum proletar memiliki tiga dimensi keterasingan, yang pertama adalah terasing dari dirinya sendiri, yang kedua adalah terasing dari produknya, dan yang ketiga adalah terasing karena memperalat dirinya sendiri untuk mencari nafkah. Dan menurut Karl Marx jika seseorang sudah terasing dari hakikatnya maka dia akan terasing dari sesama manusia lainnya, karena setiap orang memiliki kepentingan yang berbeda, dan semua itu saling berkontradiksi. Sudah jelas bahwa buruh dan pemilik modal saling bertentangan, dan menurutnya di antara sesama buruhpun terjadi pertentangan dalam merebut tempat bekerja sedangkan di antara pemilik modal terjadi pertentangan memperebutkan pasar.
Namun baginya hubungan manusia yang tidak terasing hanya ada pada hubungan antara pria dan wanita yang saling mencinta, hal tersebut dapat dilihat dari sifat Karl Marx yang digambarkan sangat mencintai keluarganya. Bagi Karl Marx pada hakikatnya keterasingan dalam pekerjaan disebabkan oleh sistem hak milik pribadi antara yang menguasai alat kerja dan yang menguasai tenaga kerja semua itu terwujud oleh sistem pembagian kerja dalam masyarakat. Dan bagi Karl Marx ini hanyalah tahap kedua bagi perkembangan manusia, yang pada tahap pertama adalah manusia purba tanpa pembagian kerja sedangkan di tahap ketiga adalah tahap kebebasan apabila sistem hak milik pribadi telah dhapuskan.Sehingga di bab enam Karl Marx menjelaskan tentang teori kelas dimana yang disebabkan oleh sistem pembagian kerja. Di dalam masyarakat terdapat kelas yang menguasai dan kelas yang dikuasai. Namun Karl Marx lebih mengkritik keadaan pada masyarakat kapitalis, yang menurutnya terdapat tiga kelas yaitu, kaum buruh (yang hidup dari upah), kaum pemilik modal (hidup dari laba), dan para tuan tanah yang kemudian menjadi pemilik modal. Pemilik modal dan buruh sebenarnya saling membutuhkan namun saling bertentangan karena keduanya memiliki ketergantungan yang tidak seimbang. Menurut Karl Marx buruh adalah kaum yang lemah sedangkan pemilik modal adalah kelompok yang kuat. Buruh bisa hidup hanya jika memiliki pekerjaan yang dberikan oleh pemilik modal, sedangkan pemilik modal hidup dari hasil kerja buruh, sehingga bagi Karl Marx hal ini merupakan sistem kerja eksploitasi, pemilik modal dianggap sebagai penindas dan kaum buruh dianggap sebagai kaum tertindas. Dalam pandangan Karl Marx hubungan kerja dalam sistem kapitalis tidak stabil, karena pemilik modal yang menguasai ekonomi mereka dapat memenangkan kepentingan mereka atas kepentingan buruh, tetapi apabila kekuatan kelas atas berkurang dan buruh mampu memenangkan kepentingan mereka maka akan terjadi revolusi dan hak milik dihapuskan. Menurut Karl Marx perubahan hanya bisa dilakukan dengan revolusi.
Hal ini dapat dibagi ke dalam tiga unsur yaitu, pertama segi struktural lebih besar perannya dibandingkan kesadaran dan moralitas, kedua kepentingan yang berbeda akan menimbulkan sikap yang berbeda terhadap perubahan, dan ketiga bagi Karl Marx kemajuan dalam susunan masyarakat hanya dapat dilakukan dengan jalan kekerasan, yaitu revolusi. Selanjutnya Karl Marx mengkritik negara dan agama yang baginya tidak memihak pada kaum buruh. Negara menurut Karl Marx merupakan alat bagi pemilik modal yang merupakan penguasa dan pengendali ekonomi untuk melegalkan hubungan kerja yang tidak adil dan tidak stabil sehingga kaum pemilik modal diuntungkan, perwujudannya berupa ideologi-ideologi. Ideologi kapitalis yang membuka kesempatan yang sama bagi siapapun untuk berusaha maju dan mendapatkan prestasi telah mengabaikan kenyataan bahwa semua manusia tidak memiliki kekuatan yang sama termasuk dalam aspek ekonomi, sehingga pamilik modal yang diilustrasikan sebagai kaum yang kuat akan selalu menang dan menindas kaum buruh yang lemah. Sedangkan agama hanyalah candu manusia, agama mengajarkan manusia yang “sabar” dan sanggup memikul “salibnya” (keadaan saat itu dimana gereja sangat berpengaruh) telah mengakibatkan manusia menjadi enggan untuk berjuang tetapi memilih untuk menerima kenyataan hidupnya yang tertindas. Dan kritiknya terhadap sejarah yang dianggapnya juga sebagai salah satu bentuk penipuan, diamana para raja dan orang besar lainnya yang kisahnya ditulis dalam buku-buku sejarah, secara terselubung semua itu juga ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu, dalam hal ini mereka yang memiliki modal, dan pengaruh yang kuat.
Karl Marx mengklaim bahwa sosialismenya adalah sosialisme ilmiah karena sosialismenya berdasarkan pengetahuan tentang hukum objektif perkembangan masyarakat, pengetahuan itulah yang disebut pandangan materialis sejarah. Asusmsi dasar pandangan materialis sejarah adalah ”bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka, namun keadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka”. Bagi Karl Marx keadaan manusia adalah tentang cara manusia menghasilkan sesuatu untuk hidup, oleh karena itu untuk memahami sejarah dan arah perkembangannya kita tidak perlu memperhatikan apa yang dipikirkan oleh manusia tetapi bagaimana manusia bekerja , bagaimana ia berproduksi. Singkatnya sejarah manusia ditentukan oleh syarat-syarat produksi material, yang menentukan sejarah adalah materialisme. Pertentangan kelas sosial merupakan jawaban ata segalanya, kesadaran dan cita-cita manusia ditentukan oleh kedudukannya dalam kelas sosial.
Karl Marx membagi lingkup kehidupan manusia dalam dua bagian besar yaitu dasar nyata atau basis dan bangunan atas. Basis adalah bidang produksi kehidupan material dan bangunan atas adalah proses kehidupan sosial, politik dan spiritual, namun kehidupan bangunan atas ditentukan oleh kehidupan dalam basis. Basis ditentukan oleh dua faktor yaitu, tenaga-tenaga produktif (alat-alat kerja, manusia dengan kecakapannya, dan pengalaman dalam produksi/teknologi), dan hubungan-hubungan produksi (pembagian kerja antara manusia yang terlibat dalam proses produksi). Sedangkan Bangunan atas terdiri dari tatanan institusional (lembaga yang mengatur sistem pasar, pendidikan, kesehatan, hukum dan negara), dan tatanan kolektif (sistem kepercayaan, norma, dan nilai-nilai termasuk pandangan dunia, agama, filsafat, moralitas, budaya, seni dan sebagainya).
Bertolak dari dua hal tersebut maka Karl Marx berpandangan bahwa perubahan masyarakat terjadi akibat adanya dinamika dalam basis bukan dalam bangunan atas. Seperti yang telah dijelaskan, bahwa akibat ketidakseimbangan dalam sistem produksi dimana kaum buruh yang tertindas (akibat penindasan membuat orang menjadi progresif dan menginginkan perubahan) apabila mereka semakin kuat maka akan terjadi perubahan berupa revolusi. Karena pertentangan dalam masyarakat akibat adanya sistem hak milik maka Karl Marx berpendapat bahwa bangunan atas bisa berubahapabila struktur hak milik berubah. Perubahan sosial menurutnya haruslah bersifat revolusioner bukan perubahan secara perlahan-lahan karena jika secara perlahan, kita tahu bahwa pemilik modal tidak menginginkan perubahan, mereka akan berusaha untuk menghentikan perubahan agar mereka selalu bisa menjadi pengendali atas buruh yang berujung pada dominasi ekonomi oleh kelompok pemilik modal.
Pada akhirnya, dari semua hasil pemikiran Karl Marx muncul berbagai pertanyaan dari penulis sendiri, apakah ketika hak milik dihapuskan dan semua manusia sama secara ekonomi?. Bukankah pasti ada manusia yang memiliki kelebihan dalam hal ini, karena semua manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda sejak dilahirkan?, jika hak milik dihapuskan dan tidak ada yang menguasai dan yang dikuasai bukankah akan menimbulkan kekacauan? Karena manusia yang ada adalah manusia yang telah terbentuk pola pikirnya oleh sistem yang sebelumnya ada yaitu sistem kapitalis (karena yang ditentang oleh Karl Marx adalah kapitalis), kecuali manusia dilahirkan kembali, itupun susah karena jika ditilik dari sejarah agama dari awal manusia diciptakan keinginan-keinginan manusia akan rasa memiliki sesuatu telah muncul, hal inilah yang menjadi bukti bahwa sekarang ini di seluruh dunia telah mengalami kegagaglan dari teori dan pemikiran Karl Marx, kecuali dihilangkan rasa iri, dengki, dan sebagainya. Saat manusia berusaha untuk bertahan hidup di situlah sebagian besar pemikiran Karl Marx dianggap gagal, binatang saja yang tidak memiliki akal budi bisa saling bunuh hanya untuk mendapatkan makanan. Namun seperti yang saya katakan bahwa tidak sepenuhnya pemikiran Karl Marx tidak bermanfaat bagi manusia, Karl Marx telah menyadarkan kita bahwa sistem kapitalis telah membawa kita pada ketidakadilan dalam segala aspek kehidupan, namun pada hakikatnya dari semua yang dihasilkan oleh manusia termasuk pemikiran manusia tidak ada yang sempurna.
Labels:
budaya,
ekonomi,
Internasional,
politik,
Sosial
11:24 PM
Mengais Rejeki Nener
Written By Puisi on March 3, 2013 | 11:24 PM
Selain ikan, siput, lobster dan kepiting
yang merupakan hasil buruan laut, masyarakat di kecamatan Nangaroro
juga mengais rejeki guna menambah penghasilan dengan mencari nener.
Berbeda halnya dengan ikan, udang, atau kepiting yang dijual dan
dijadikan lauk pauk, nener hanya dijual kepada penadah dalam keadaan
hidup.
Nener sangat mudah ditemukan di lautan
yang dangkal atau di pinggiran muara sepanjang pantai Nangaroro.Nener
adalah bakal dari ikan bandeng dengan ukuran yang sangat kecil,
kira-kira seukuran jentik nyamuk. Setiap saat penadah membutuhkan
bibit-bibit ikan bandeng tersebut, kami mulai ramai berbondong-bondong
membawa alat penangkap tradisional menuju pantai mencari dan
mengumpulkan nener sebanyak mungkin.
Nener memang lebih mudah ditangkap
dengan perlengkapan tradisional. Alat tradisional yang kami gunakan
untuk menangkap nener adalah rangkaian jaring berlubang kecil yang
dijahit menyatu dengan dua batang bambu dengan dua bola plastik sebagai
pelampungnya. Di ujung jaring disambungkan dengan karung bekas yang
dilapisi plastik sehingga tidak ada celah bagi nener untuk lolos. Di
ujung karung juga diikat tali agar lebih mudah ketika memasukan hasil
tangkapan ke dalam wadah penampung. Hampir semua warga masyarakat di
kampung Nangaroro mengais rejeki tambahan tersebut, termasuk saya dan
keluarga.
Ayahku sangat pandai membuat jaring
penangkap nener dengan ukuran yang berbeda-beda. Untuk anak seusia saya
dan kakak yang masih duduk di SMP saat itu ayah mendesain jaring dengan
ukuran yang lebih kecil, sedangkan bagi mereka dibuat ukuran yang lebih
besar.
Setiap kali liburan sekolah atau hari
sabtu dan minggu pemandangan pantai tidak hanya dipenuhi oleh para
orangtua melainkan juga anak-anak usia sekolah seperti kami.
Mencari nener dalam bahasa kami biasa
disebut dorong nener, karena proses yang dilakukan untuk mendapatkan
nener hanya mendorong jaring berpelampung bola plastik tersebut
menyusuri pinggiran laut berbusa akibat pecahan ombak. Nener yang
terperangkap ke dalam jaring tentu tidak bisa meloloskan diri karena
jaring akan digerakan sambil berjalan berlawanan dengan arah gerak
nener. Setelah merasa sudah banyak yang terperangkap maka jarring pun
diangkat lalu simpul tali pun dibuka dan dituangkan ke dalam wadah
penampung.
Nener yang dibutuhkan para penadah
adalah nener yang masih dalam kondisi segar dan hidup. Oleh karena itu,
wadah penampung yang dibutuhkan harus lebih dari satu. Kami biasa
menggunakan dua wadah besar untuk menampung.
Setelah nener-nener terperangkap jaring,
nener pun dimasukan ke dalam wadah pertama untuk memisahkanya dari
kotoran atau ikan-ikan kecil lain yang juga ikut terjaring. Nener yang
mati juga dibuang agar tidak berpengaruh pada nener-nener yang masih
hidup. Setelah itu, nener yang masih dalam kondisi segar dimasukan ke
dalam wadah penampung kedua yang berisi air tawar bercampur sedikit air
laut yang sudah bersih dari kotoran.
Sekali menjaring bisa sampai ratusan
ekor dan bahkan lebih bergantung pada cuaca dan kondisi air laut. Dalam
sehari saja bisa sampai puluhan ribu ekor nener hidup yang didapatkan
dan dijual kepada penadah.
Di Nangaroro saat itu terdapat dua rumah
penadah atau distributor kecil-kecilan. Menurut informasi dari para
penadah Om Simon dan Om Sinyo saat itu bahwa nener yang dibeli akan
dikirimkan ke Surabaya. Saat itu nener dihargai Rp.5 per ekornya.
Bayangkan saja dari satu orang pencari nener saja mengumpulkan hingga
puluhan ribu ekor per harinya, apalagi jika penadah membeli semua nener
dari sekian banyak pencari nener setiap harinya dengan harga yang bisa
dikatakan cukup murah. Para penadah tentu meraup keuntungan yang cukup
tinggi ketika menjual lagi ke tangan kedua atau ketiga di Surabaya.
Biasanya nener yang telah dibeli dari para pencari akan dimasukan ke
dalam tabung dari bahan plastik dengan ruang udara yang cukup agar nener
tidak mudah mati.
Kemungkinan besar pengiriman nener
melalui perjalanan laut dengan kapal penumpang atau kapal barang untuk
tiba di Surabaya. Para penadah di Surabaya menjual bibit bandeng
tersebut kepada pengrajin tambak ikan air tawar di Surabaya untuk
dikembangbiakan menjadi bandeng dewasa. Hanya butuh waktu sekitar tiga
sampai empat bulan nener-nener kecil tersebut tumbuh hingga menjadi
bandeng dewasa yang siap dipanen untuk dikonsumsi. Permintaan pasar
bandeng dewasa yang meningkat tentu mempengaruhi permintaan bibit ikan
tersebut.
Saat ini baru terpikir olehku, mengapa
ketika itu kami tidak membuat tambak bandeng sendiri? Jika
dipikir-dipikir logisnya adalah menangkap nener sendiri, dipelihara
ditambak sendiri hingga jadi bandeng dewasa lalu dijual dengan harga
sendiri. Soal pengalaman tentang ikan sudah tidak diragukan lagi,
mungkin karena minimnya SDM untuk memahami proses pemasaran. Oleh karena
itu pemerintah saat ini harus mampu melihat potensi SDA yang bisa
dikembangkan secara jujur di daerah sendiri.
Labels:
ekonomi
12:35 AM
Gunung Rokatenda Meletus, Flores Hujan Abu Vukanik
Written By Unknown on February 8, 2013 | 12:35 AM
Gunung Rokatenda di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, meletus pada Sabtu (2/2/2013) pukul 23.36 Wita. Sebagian besar wilayah di Pulau Flores, diguyur abu vulkanik akibat letusan gunung di bagian utara NTT tersebut.
Kantor Berita Antara melaporkan, rumah-rumah penduduk terutama di utara Flores diselimuti abu setebal sekitar satu milimeter. "Gunung Rokatenda pada saat letusan, sempat terjadi hujan abu dengan tebal satu milimeter di pos pemantau Gunung Rokatenda," kata Petrus Tiba, Pemantau Gunung Api Iya dan Rokatenda yang berpusat di Ropa-Ende.
Petrus mengatakan, letusan disertai bunyi dentuman dan suara gemuruh terdengar dari pos pengamatan yang berada di pantai utara NTT dengan jarak 17 km arah selatan Gunung Rokatenda. Letusan itu juga memperlihatkan semburan lava pijar.
Menurut Petrus, semburan debu cukup tinggi mencapai 300-4.000 meter di atas permukaan laut sehingga menyebar ke sebagian besar di Pulau Flores. Semburan abu vulkanik ini bisa berdampak pada serangan penyakit pernapasan, terutama pada anak-anak.
Untuk sementara, penduduk sekitar diimbau tidak keluar rumah. Jika berada di luar rumah, maka anak-anak atau warga diharuskan mengenakan masker untuk menghindari serangan penyakit sesak napas.
Dampak letusan Gunung Rokatenda, empat kecamatan di Kabupaten Nagekeo tertutup abu vulkanik. Silvester Jogo dan Aloysius Abo, ditemui di Nangaroro, Minggu (3/2/2013) siang mengatakan, mereka mengetahui abu vulkanik pada pukul 05.00 Wita.
Silvester menyampaikan, akibat debu vulkanik dari Gunung Rokatenda itu, masyarakat di daerah yang berhadapan langsung dengan Gunung Rokatenda seperti Kecamatan Wolowae, Nangaroro mulai menderita sesak napas dan mata perih.
"Ternak bisa mati semua kalau hujan tidak turun dua sampai tiga hari ini karena tidak ada makanan. Kami juga khawatir debu yang ada bisa menutup mata air. Kami berharap pemerintah daerah segera tanggap dan memberikan bantuan darurat berupa masker kepada warga terkena dampak," kata Silvester.
Minggu siang hingga sore, abu vulkanik menghalangi jarak pandang para pengendara sepeda motor di Nangaroro dan Wolowae. Silvester mengatakan, warga Nangaroro sempat panik melihat debu yang menutup hampir seluruh daerah itu.
"Saya kaget ketika bangun lihat di halaman semuanya putih. Saya kasih bangun seluruh keluarga dan tetangga. Saya panik kiranya ada kejadian apa. Setelah cari tahu ternyata abu dari Gunung Rokatenda di Palue," kata Silvester.
Ia menjelaskan, ketebalan abu tiga sampai empat mili meter (mm). Mereka memprediksi ketebalan debu setebal itu karena ketika diinjak meninggalkan jejak. Silvester dan Aloysius mengatakan, jika kondisi tersebut berlanjut akan berdampak pada kesehatan warga serta kehidupan ternak di daerah itu.
Sementara bantuan masker dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagekeo baru diturunkan Minggu sore ke tiga kecamatan terparah, yaitu Wolowae, Nangaroro dan Keo Tengah masing-masing 1.000 unit. Di Kaburea, Kecamatan Wolowae abu vulkanik menutup seluruh rumah penduduk, tanaman pangan dan sawah garam di wilayah itu.
Anggota DPRD Kabupaten Nagekeo asal Wolowae, Marsel Lemara, Minggu pagi mengatakan, hujan debu vulkanik Gunung Rokatenda telah mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat di daerah itu. Menurut dia, yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini hanya masker.
Kepala BPBD Kabupaten Nagekeo, Sirilus Loi melalui pesan singkatnya, Minggu siang mengatakan, timnya sudah berada di tiga kecamatan yang dilanda debu vulkanik Gunung Rokatenda. Tim tersebut membawa 1.000 masker untuk setiap kecamatan. Dengan demikian, untuk tiga kecamatan sebanyak 3.000 masker.
Kantor Berita Antara melaporkan, rumah-rumah penduduk terutama di utara Flores diselimuti abu setebal sekitar satu milimeter. "Gunung Rokatenda pada saat letusan, sempat terjadi hujan abu dengan tebal satu milimeter di pos pemantau Gunung Rokatenda," kata Petrus Tiba, Pemantau Gunung Api Iya dan Rokatenda yang berpusat di Ropa-Ende.
Petrus mengatakan, letusan disertai bunyi dentuman dan suara gemuruh terdengar dari pos pengamatan yang berada di pantai utara NTT dengan jarak 17 km arah selatan Gunung Rokatenda. Letusan itu juga memperlihatkan semburan lava pijar.
Menurut Petrus, semburan debu cukup tinggi mencapai 300-4.000 meter di atas permukaan laut sehingga menyebar ke sebagian besar di Pulau Flores. Semburan abu vulkanik ini bisa berdampak pada serangan penyakit pernapasan, terutama pada anak-anak.
Untuk sementara, penduduk sekitar diimbau tidak keluar rumah. Jika berada di luar rumah, maka anak-anak atau warga diharuskan mengenakan masker untuk menghindari serangan penyakit sesak napas.
Dampak letusan Gunung Rokatenda, empat kecamatan di Kabupaten Nagekeo tertutup abu vulkanik. Silvester Jogo dan Aloysius Abo, ditemui di Nangaroro, Minggu (3/2/2013) siang mengatakan, mereka mengetahui abu vulkanik pada pukul 05.00 Wita.
Silvester menyampaikan, akibat debu vulkanik dari Gunung Rokatenda itu, masyarakat di daerah yang berhadapan langsung dengan Gunung Rokatenda seperti Kecamatan Wolowae, Nangaroro mulai menderita sesak napas dan mata perih.
"Ternak bisa mati semua kalau hujan tidak turun dua sampai tiga hari ini karena tidak ada makanan. Kami juga khawatir debu yang ada bisa menutup mata air. Kami berharap pemerintah daerah segera tanggap dan memberikan bantuan darurat berupa masker kepada warga terkena dampak," kata Silvester.
Minggu siang hingga sore, abu vulkanik menghalangi jarak pandang para pengendara sepeda motor di Nangaroro dan Wolowae. Silvester mengatakan, warga Nangaroro sempat panik melihat debu yang menutup hampir seluruh daerah itu.
"Saya kaget ketika bangun lihat di halaman semuanya putih. Saya kasih bangun seluruh keluarga dan tetangga. Saya panik kiranya ada kejadian apa. Setelah cari tahu ternyata abu dari Gunung Rokatenda di Palue," kata Silvester.
Ia menjelaskan, ketebalan abu tiga sampai empat mili meter (mm). Mereka memprediksi ketebalan debu setebal itu karena ketika diinjak meninggalkan jejak. Silvester dan Aloysius mengatakan, jika kondisi tersebut berlanjut akan berdampak pada kesehatan warga serta kehidupan ternak di daerah itu.
Sementara bantuan masker dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagekeo baru diturunkan Minggu sore ke tiga kecamatan terparah, yaitu Wolowae, Nangaroro dan Keo Tengah masing-masing 1.000 unit. Di Kaburea, Kecamatan Wolowae abu vulkanik menutup seluruh rumah penduduk, tanaman pangan dan sawah garam di wilayah itu.
Anggota DPRD Kabupaten Nagekeo asal Wolowae, Marsel Lemara, Minggu pagi mengatakan, hujan debu vulkanik Gunung Rokatenda telah mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat di daerah itu. Menurut dia, yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini hanya masker.
Kepala BPBD Kabupaten Nagekeo, Sirilus Loi melalui pesan singkatnya, Minggu siang mengatakan, timnya sudah berada di tiga kecamatan yang dilanda debu vulkanik Gunung Rokatenda. Tim tersebut membawa 1.000 masker untuk setiap kecamatan. Dengan demikian, untuk tiga kecamatan sebanyak 3.000 masker.
Labels:
ekonomi,
kesehatan,
pendidikan
11:44 PM
Petani Nagekeo Meratapi Padi Siap Panen Terendam Banjir
Written By Unknown on February 6, 2013 | 11:44 PM
Ratusan hektar tanaman padi sawah siap panen dan puluhan rumah penduduk di Mbay, Kabupaten Nagekeo, terendam banjir. Juga puluhan hektar padi sawah yang sudah menguning siap panen di Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, rusak terendam banjir. Para petani hanya bisa meratap seperti Abdul Kadir di Mbay.
Bencana ini terjadi setelah hampir seluruh daratan Flores dalam dua hari terkahir, Selasa (8/1/2013) dan Rabu (9/1/2013), diguyur hujan lebat disertai angin kencang. Wilayah terparah yang dilanda banjir di Nagekeo, yaitu Tonggurambang, Desa Mbay II, Desa Mbay I, Marapokot, Nanga Dhero, Wolowae dan sebagian kecil di Danga.
Banjir yang merendam ratusan hektar padi sawah dan puluhan rumah di daerah itu berasal dari luapan saluran irigasi pembuangan, serta buruknya drainase dalam Kota Mbay. Bahkan sampai saat ini, di ibu kota Kabupaten Nagekeo itu belum ada drainase atau saluran pembuangan yang memadai.
Hampir semua ruas jalan, termasuk jalan utama Danga-Marapokot yang membelah Kota Mbay tidak memiliki saluran pembuangan. Akibatnya, ketika hujan turun dengan intensitas tinggi terjadi banjir dan genangan air di lokasi-lokasi pemukiman penduduk.
Khusus rumah-rumah di sepanjang jalur Alorongga-Marapokot, genangan terjadi akibat saluran pembuangan atau deker-deker yang selama ini berfungsi sebagai saluran pembuangan air hujan ditutup material dari proyek peningkatan jalan tersebut.
"Kami sudah beritahu kontraktor jangan tutup saluran pembuangan. Tetapi mereka jawab, dalam perencanaan tidak ada saluran pembuangan atau deker. Mereka tutup saluran pembuangan," kata Erni, salah satu warga yang rumahnya terendam banjir.
"Baru tahun ini, banjir sampai separah ini. Genangan air di dalam rumah saya sampai sepinggang. Peralatan rumah tangga banyak yang rusak. Mesin cuci tidak berfungsi lagi. Peralatan dapur terendam. Peralatan elektronik rusak. Kami tidak bisa memasak," tutur Erni.
Sambil menunggu bantuan pemerintah, masyarakat korban banjir dengan peralatan seadanya berusaha menjebol kembali saluran pembuangan yang ditutup PT SAK, kontakraktor pekerjaan peningkatan jalan Alorongga-Marapokot. Hanya dengan cara itu bisa menyurutkan air yang merendam rumah mereka.
Sementara para petani yang tanaman padinya terendam banjir hanya pasrah. Hadija Arbaa, yang tanaman padinya ikut terendam mengatakan, tanaman padi miliknya seluas satu hektar itu sudah mulai memasuki masa panen.
Ia mengatakan, padi yang terendam itu menurut rencana akan dipanen minggu depan. Namun kejadian ini, ia mengaku tidak bisa berharap banyak untuk panen padi sawahnya. "Dalam kondisi normal, hasil panen satu hektar bisa sampai 60 karung. Kalau sudah terendam begini, kami tidak tahu lagi," ujarnya.
Korban lainnya, Abdul Kadir hanya bisa meratapi padi miliknya yang hancur di lantai jemuran. Abdul yang membiarkan padi di lantai jemur dengan tutupan terpal karena berharap hujan hanya berlangsung satu dua jam ternyata harus menyesali keputusannya.
Hujan dua hari berturut-turut, Selasa (8/1/2013) dan Rabu (9/1/2013) menyebabkan air tergenang dan banjir yang turut merendam padi miliknya tersebut. Padi 20 karung yang dijemur dalam tiga terpal itu dipastikan hancur. "Kalau untuk jual sudah tidak bisa diharapkan lagi. Mungkin hanya untuk makan," kata Abdul.
Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo melalui Pemerintahan Kecamatan Aesesa telah melakukan pendataan terhadap para korban banjir. Namun untuk tahap awal hanya korban rumah terendam. Sedangkan lahan tanaman yang rusak akibat terendam banjir belum terdata. Petugas dari Kantor Bencana Alam Daerah juga belum terlihat di lapangan.
Sekitar puluhan hektar padi sawah siap panen di Desa Bhera, Kecamatan Mego, Sikka, juga rusak terendam banjir. Salah seorang warga desa setempat, Datus menyampaikan hal ini kepada Pos Kupang melalui telepon selular, Rabu (9/1/2013).
Datus menjelaskan, cuaca buruk dan hujan lebat dua hari terakhir ini menimbulkan bencana banjir. Banjir yang meluap dari Kali Lowo Wego di kampung itu masuk ke lahan sawah masyarakat. Akibatnya, tanaman padi masyarakat yang sudah menguning dan siap panen dan padi yang baru ditanam rusak. "Kepala desa dan masyarakat turun memantau kerusakan padi. Memang sedih, ibu-ibu meratapi kejadian ini," tutur Datus.
Bencana ini terjadi setelah hampir seluruh daratan Flores dalam dua hari terkahir, Selasa (8/1/2013) dan Rabu (9/1/2013), diguyur hujan lebat disertai angin kencang. Wilayah terparah yang dilanda banjir di Nagekeo, yaitu Tonggurambang, Desa Mbay II, Desa Mbay I, Marapokot, Nanga Dhero, Wolowae dan sebagian kecil di Danga.
Banjir yang merendam ratusan hektar padi sawah dan puluhan rumah di daerah itu berasal dari luapan saluran irigasi pembuangan, serta buruknya drainase dalam Kota Mbay. Bahkan sampai saat ini, di ibu kota Kabupaten Nagekeo itu belum ada drainase atau saluran pembuangan yang memadai.
Hampir semua ruas jalan, termasuk jalan utama Danga-Marapokot yang membelah Kota Mbay tidak memiliki saluran pembuangan. Akibatnya, ketika hujan turun dengan intensitas tinggi terjadi banjir dan genangan air di lokasi-lokasi pemukiman penduduk.
Khusus rumah-rumah di sepanjang jalur Alorongga-Marapokot, genangan terjadi akibat saluran pembuangan atau deker-deker yang selama ini berfungsi sebagai saluran pembuangan air hujan ditutup material dari proyek peningkatan jalan tersebut.
"Kami sudah beritahu kontraktor jangan tutup saluran pembuangan. Tetapi mereka jawab, dalam perencanaan tidak ada saluran pembuangan atau deker. Mereka tutup saluran pembuangan," kata Erni, salah satu warga yang rumahnya terendam banjir.
"Baru tahun ini, banjir sampai separah ini. Genangan air di dalam rumah saya sampai sepinggang. Peralatan rumah tangga banyak yang rusak. Mesin cuci tidak berfungsi lagi. Peralatan dapur terendam. Peralatan elektronik rusak. Kami tidak bisa memasak," tutur Erni.
Sambil menunggu bantuan pemerintah, masyarakat korban banjir dengan peralatan seadanya berusaha menjebol kembali saluran pembuangan yang ditutup PT SAK, kontakraktor pekerjaan peningkatan jalan Alorongga-Marapokot. Hanya dengan cara itu bisa menyurutkan air yang merendam rumah mereka.
Sementara para petani yang tanaman padinya terendam banjir hanya pasrah. Hadija Arbaa, yang tanaman padinya ikut terendam mengatakan, tanaman padi miliknya seluas satu hektar itu sudah mulai memasuki masa panen.
Ia mengatakan, padi yang terendam itu menurut rencana akan dipanen minggu depan. Namun kejadian ini, ia mengaku tidak bisa berharap banyak untuk panen padi sawahnya. "Dalam kondisi normal, hasil panen satu hektar bisa sampai 60 karung. Kalau sudah terendam begini, kami tidak tahu lagi," ujarnya.
Korban lainnya, Abdul Kadir hanya bisa meratapi padi miliknya yang hancur di lantai jemuran. Abdul yang membiarkan padi di lantai jemur dengan tutupan terpal karena berharap hujan hanya berlangsung satu dua jam ternyata harus menyesali keputusannya.
Hujan dua hari berturut-turut, Selasa (8/1/2013) dan Rabu (9/1/2013) menyebabkan air tergenang dan banjir yang turut merendam padi miliknya tersebut. Padi 20 karung yang dijemur dalam tiga terpal itu dipastikan hancur. "Kalau untuk jual sudah tidak bisa diharapkan lagi. Mungkin hanya untuk makan," kata Abdul.
Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo melalui Pemerintahan Kecamatan Aesesa telah melakukan pendataan terhadap para korban banjir. Namun untuk tahap awal hanya korban rumah terendam. Sedangkan lahan tanaman yang rusak akibat terendam banjir belum terdata. Petugas dari Kantor Bencana Alam Daerah juga belum terlihat di lapangan.
Sekitar puluhan hektar padi sawah siap panen di Desa Bhera, Kecamatan Mego, Sikka, juga rusak terendam banjir. Salah seorang warga desa setempat, Datus menyampaikan hal ini kepada Pos Kupang melalui telepon selular, Rabu (9/1/2013).
Datus menjelaskan, cuaca buruk dan hujan lebat dua hari terakhir ini menimbulkan bencana banjir. Banjir yang meluap dari Kali Lowo Wego di kampung itu masuk ke lahan sawah masyarakat. Akibatnya, tanaman padi masyarakat yang sudah menguning dan siap panen dan padi yang baru ditanam rusak. "Kepala desa dan masyarakat turun memantau kerusakan padi. Memang sedih, ibu-ibu meratapi kejadian ini," tutur Datus.
Labels:
ekonomi
9:10 AM
Rumor dan Fakta tentang Nasib TKI Ilegal
Written By Unknown on January 28, 2013 | 9:10 AM
TKI (Tenaga Kerja Indonesia), kata yang akrab di telinga setiap saat kita mengenang mereka. Para pahlawan devisa negara yang sungguh berjasa ini selalu menjadi perhatian banyak kalangan. Tertera secara hukum, para TKI telah mendapatkan legalitas dari pemerintah Indonesia untuk bekerja di luar negeri. Namun, legalitas itu tidak cukup menjamin gaji, kesehatan, dan keselamatan kerja para TKI. Ada saja persoalan yang menerpa mereka. Kekerasan kerap menjadi bagian dari perjuangan mereka mengadu nasib demi keluarga dan, secara tidak langsung, demi negara.
Lalu bagaimana dengan sanak saudara dan handai taulan kita yang mengadu nasib di negeri orang tanpa legalitas atau ijin dari pemerintah, yang biasa disebut tenaga kerja ilegal (imigran gelap)?
Demi hidup lebih baik
Merantau bukan kata asing lagi bagi sebagian besar masyarakat kita. Bagi masyarakat di daerah saya, di Kecamatan Nangaroro, Nagekeo, NTT, khususnya di kampung Aekana dan beberapa kampung sekitarnya, kai deo (merantau) identik dengan kai Malaysia (merantau ke Malaysia). Mengadu nasib ke Malaysia sudah menjadi tradisi sejak beberapa dekade lalu. Ini dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap di kampung, mulai dari kalangan pria dan wanita dewasa, mereka yang telah berkeluarga, hingga anak-anak putus sekolah.
Mengadu nasib ke negeri jiran tanpa visa, passport, atau surat ijin sejenis bukan masalah buat mereka. Tanpa pendataan diri melalui Pemerintah Daerah atau instasi terkait, tanpa begitu memedulikan resiko dan kemungkinan buruk yang dapat terjadi, para perantau berangkat ke Malaysia. Ini semua demi perbaikan kesejahteraan hidup kelak di kemudian hari.
Sebagian besar tenaga kerja gelap dari kampung-kampung di Nangaroro memilih Malaysia Timur dan Malaysia Barat sebagai tempat mengadu nasib. Alasanya adalah jarak yang dekat, tak sejauh negara-negara di Timur Tengah. Selain jarak, biaya yang dibutuhkan untuk berangkat ke Malaysia juga tentu lebih murah.
Berdasarkan informasi yang saya peroleh, perjalanan menuju Malaysia susah-susah gampang. Namun, banyak perantau yang mengatakan bahwa lebih baik hidup di sana dari pada hidup di kampung sendiri. Di sana ada harapan untuk mendapatkan hidup lebih baik, sedangkan di kampung sendiri tidak ada harapan akan masa depan yang lebih baik.
Biasanya para perantau pendahulu yang sudah tahu seluk-beluk masuk ke Malaysia memengaruhi para calon perantau di kampung dengan cerita atau janji upah menyenangkan serta iming-iming kesenangan hidup di sana. Pada kenyataannya, tawaran ini tak lepas dari komisi berupa uang yang akan didapat perantau lama (pendahulu) dari para perantau baru. Janji-janji seperti ini tentu menyenangkan bagi para perantau gelap karena berpikir mudah dan aman berangkat ke Malaysia, begitu juga sesampainya di sana.
Fakta Menyedihkan
Akan tetapi, cerita yang saya dengar dari saudara-saudaraku yang pernah menjadi pekerja ilegal di Malaysia Barat membuat saya terenyuh. Mereka mengatakan, tidak ada hal yang menyenangkan sebagai pekerja ilegal di sana, seperti iming-iming para perantau pendahulu itu. Memang, menurut pengakuan mereka, upah ringgit yang mereka peroleh (sebagai pemetik buah dan sayur) cukup memuaskan bila ditukarkan ke rupiah.
Keinginan mereka menjadi pekerja ilegal di Malaysia dilatarbelakangi kejenuhan hidup tanpa pekerjaan tetap saat tinggal di kampung. Kejenuhan itu sirna oleh kabar menyenangkan tentang bekerja di Malaysia, termasuk sebagai pekerja ilegal. ‘Angin surga’ yang dihembuskan para perantau pendahulu itu akhirnya membawa mereka pada keputusan untuk meninggalkan kampung halaman, meski tanpa jaminan keamanan dan keselamatan baik dalam perjalanan maupun selama bekerja di sana sebagai pekerja ilegal.
Sebagian besar dari mereka memilih Batam sebagai tempat persinggahan sebelum masuk ke Malaysia Barat. Setibanya di Batam, mereka diterima di rumah persinggahan. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk dengan bayar sana-sini, mereka pun berangkat menggunakan perahu cepat (speed boat) sewaan.
Jika tidak ada petugas keamanan laut (Polisi Air Malaysia) yang berpatroli sepanjang rute perjalanan, penumpang perahu cepat itu bisa selamat tiba di pantai Malaysia. Tetapi, jika tertangkap basah, kejadian buruk akan menimpa mereka, entah dipenjara, dihukum cambuk, atau dideportasi oleh Pemerintah Malaysia. Jadi, keamanan perjalanan yang dijanjikan para pendahulu sangat diragukan kebenaranya.
Sesampainya di tempat kerja yang dijanjikan, mereka diperkenalkan pengantar kepada toke atau bos. Setelah sepakat dengan tawaran kerja,mereka diberi penjelasan tentang tata cara kerja serta upah yang akan diperoleh. Upah yang didapat memang cukup lumayan, yakni kira-kira 50 Ringgit per hari, sedikit lebih baik dibandingkan upah pekerja kasar umumnya di Indonesia.
Namun, gaji yang cukup memuaskan itu tetap minus jaminan keamanan. Karena tidak tercatat sebagai warga negara Malaysia dan tidak terdata sebagai tenaga kerja legal, sewaktu-waktu mereka bisa ditangkap, dicambuk, dipenjara, atau bahkan dihukum mati. Mereka selalu bekerja dalam ketakutan dan rasa was-was terjaring razia polisi Malaysia yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Tidur malam mereka di pondok di sekitar perkebunan pun sungguh tak aman. Karena itu, kerap kali pondok hanya jadi tempat persinggahan, tempat mandi dan berganti pakaian. Dan, agar bisa tidur malam dengan aman mereka mesti ‘mengungsi’ ke semak-semak di sekitar perkebunan.
Ada juga yang menceritakan, sudah banyak perantau gelap yang ditahan, dideportasi, dan dihukum sesuai aturan Malaysia. Banyak dari mereka tertangkap karena kurang waspada terhadap operasi polisi. Bila tertangkap di hutan atau saat bekerja, mereka masih punya kesempatan bernegosiasi dengan cara membayar polisi. Tapi, jika tak mampu membayar, mereka akan ditahan dan bisa saja dipenjara.
Ada satu cerita lagi yang saya dengarkan dari seorang mantan TKI gelap asal Nagekeo. Ia tertangkap setelah terjatuh dari sebuah gedung perkantoran di Malaysia saat dikejar polisi. Untungnya, ia tidak dipenjara. Ia akhirnya dideportasi dalam keadaan patah tulang pinggang dan cacat hingga kini. Kejadian yang sama terjadi pada beberapa pekerja ilegal lain yang saya kenal. Mereka sering disatroni patroli polisi pada malam hari.
Yang lebih menyedihkan, banyak dari perantau yang tak bisa kembali ke kampung halaman. Kabur kabar beritanya hingga kini. Kalaupun berhasil pulang, yang dibawa untuk keluarga bukanlah rezeki dari rantau, melainkan cedera atau cacat. Bahkan, ada juga yang tinggal nama dan kenangan karena pulang kampung dengan tubuh terbujur kaku dalam peti jenazah. Memilukan!
Demikian catatan saya untuk kita semua. Harapan saya, pemerintah benar-benar serius mengatur dan mengawasi pengiriman TKI ke luar negeri. Tentu jauh lebih baik lagi kalau negara kita tidak menjadi penyedia tenaga kerja murah untuk negara lain, apalagi negara dengan resiko keamanan dan keselamatan yang tinggi bagi pekerja kita. Untuk itu, pemerintah pusat maupun daerah harus memenuhi kewajibannya menyediakan lapangan kerja bagi rakyat serta menjamin upah kerja yang layak dan memadai.
Lalu bagaimana dengan sanak saudara dan handai taulan kita yang mengadu nasib di negeri orang tanpa legalitas atau ijin dari pemerintah, yang biasa disebut tenaga kerja ilegal (imigran gelap)?
Demi hidup lebih baik
Merantau bukan kata asing lagi bagi sebagian besar masyarakat kita. Bagi masyarakat di daerah saya, di Kecamatan Nangaroro, Nagekeo, NTT, khususnya di kampung Aekana dan beberapa kampung sekitarnya, kai deo (merantau) identik dengan kai Malaysia (merantau ke Malaysia). Mengadu nasib ke Malaysia sudah menjadi tradisi sejak beberapa dekade lalu. Ini dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap di kampung, mulai dari kalangan pria dan wanita dewasa, mereka yang telah berkeluarga, hingga anak-anak putus sekolah.
Mengadu nasib ke negeri jiran tanpa visa, passport, atau surat ijin sejenis bukan masalah buat mereka. Tanpa pendataan diri melalui Pemerintah Daerah atau instasi terkait, tanpa begitu memedulikan resiko dan kemungkinan buruk yang dapat terjadi, para perantau berangkat ke Malaysia. Ini semua demi perbaikan kesejahteraan hidup kelak di kemudian hari.
Sebagian besar tenaga kerja gelap dari kampung-kampung di Nangaroro memilih Malaysia Timur dan Malaysia Barat sebagai tempat mengadu nasib. Alasanya adalah jarak yang dekat, tak sejauh negara-negara di Timur Tengah. Selain jarak, biaya yang dibutuhkan untuk berangkat ke Malaysia juga tentu lebih murah.
Berdasarkan informasi yang saya peroleh, perjalanan menuju Malaysia susah-susah gampang. Namun, banyak perantau yang mengatakan bahwa lebih baik hidup di sana dari pada hidup di kampung sendiri. Di sana ada harapan untuk mendapatkan hidup lebih baik, sedangkan di kampung sendiri tidak ada harapan akan masa depan yang lebih baik.
Biasanya para perantau pendahulu yang sudah tahu seluk-beluk masuk ke Malaysia memengaruhi para calon perantau di kampung dengan cerita atau janji upah menyenangkan serta iming-iming kesenangan hidup di sana. Pada kenyataannya, tawaran ini tak lepas dari komisi berupa uang yang akan didapat perantau lama (pendahulu) dari para perantau baru. Janji-janji seperti ini tentu menyenangkan bagi para perantau gelap karena berpikir mudah dan aman berangkat ke Malaysia, begitu juga sesampainya di sana.
Fakta Menyedihkan
Akan tetapi, cerita yang saya dengar dari saudara-saudaraku yang pernah menjadi pekerja ilegal di Malaysia Barat membuat saya terenyuh. Mereka mengatakan, tidak ada hal yang menyenangkan sebagai pekerja ilegal di sana, seperti iming-iming para perantau pendahulu itu. Memang, menurut pengakuan mereka, upah ringgit yang mereka peroleh (sebagai pemetik buah dan sayur) cukup memuaskan bila ditukarkan ke rupiah.
Keinginan mereka menjadi pekerja ilegal di Malaysia dilatarbelakangi kejenuhan hidup tanpa pekerjaan tetap saat tinggal di kampung. Kejenuhan itu sirna oleh kabar menyenangkan tentang bekerja di Malaysia, termasuk sebagai pekerja ilegal. ‘Angin surga’ yang dihembuskan para perantau pendahulu itu akhirnya membawa mereka pada keputusan untuk meninggalkan kampung halaman, meski tanpa jaminan keamanan dan keselamatan baik dalam perjalanan maupun selama bekerja di sana sebagai pekerja ilegal.
Sebagian besar dari mereka memilih Batam sebagai tempat persinggahan sebelum masuk ke Malaysia Barat. Setibanya di Batam, mereka diterima di rumah persinggahan. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk dengan bayar sana-sini, mereka pun berangkat menggunakan perahu cepat (speed boat) sewaan.
Jika tidak ada petugas keamanan laut (Polisi Air Malaysia) yang berpatroli sepanjang rute perjalanan, penumpang perahu cepat itu bisa selamat tiba di pantai Malaysia. Tetapi, jika tertangkap basah, kejadian buruk akan menimpa mereka, entah dipenjara, dihukum cambuk, atau dideportasi oleh Pemerintah Malaysia. Jadi, keamanan perjalanan yang dijanjikan para pendahulu sangat diragukan kebenaranya.
Sesampainya di tempat kerja yang dijanjikan, mereka diperkenalkan pengantar kepada toke atau bos. Setelah sepakat dengan tawaran kerja,mereka diberi penjelasan tentang tata cara kerja serta upah yang akan diperoleh. Upah yang didapat memang cukup lumayan, yakni kira-kira 50 Ringgit per hari, sedikit lebih baik dibandingkan upah pekerja kasar umumnya di Indonesia.
Namun, gaji yang cukup memuaskan itu tetap minus jaminan keamanan. Karena tidak tercatat sebagai warga negara Malaysia dan tidak terdata sebagai tenaga kerja legal, sewaktu-waktu mereka bisa ditangkap, dicambuk, dipenjara, atau bahkan dihukum mati. Mereka selalu bekerja dalam ketakutan dan rasa was-was terjaring razia polisi Malaysia yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Tidur malam mereka di pondok di sekitar perkebunan pun sungguh tak aman. Karena itu, kerap kali pondok hanya jadi tempat persinggahan, tempat mandi dan berganti pakaian. Dan, agar bisa tidur malam dengan aman mereka mesti ‘mengungsi’ ke semak-semak di sekitar perkebunan.
Ada juga yang menceritakan, sudah banyak perantau gelap yang ditahan, dideportasi, dan dihukum sesuai aturan Malaysia. Banyak dari mereka tertangkap karena kurang waspada terhadap operasi polisi. Bila tertangkap di hutan atau saat bekerja, mereka masih punya kesempatan bernegosiasi dengan cara membayar polisi. Tapi, jika tak mampu membayar, mereka akan ditahan dan bisa saja dipenjara.
Ada satu cerita lagi yang saya dengarkan dari seorang mantan TKI gelap asal Nagekeo. Ia tertangkap setelah terjatuh dari sebuah gedung perkantoran di Malaysia saat dikejar polisi. Untungnya, ia tidak dipenjara. Ia akhirnya dideportasi dalam keadaan patah tulang pinggang dan cacat hingga kini. Kejadian yang sama terjadi pada beberapa pekerja ilegal lain yang saya kenal. Mereka sering disatroni patroli polisi pada malam hari.
Yang lebih menyedihkan, banyak dari perantau yang tak bisa kembali ke kampung halaman. Kabur kabar beritanya hingga kini. Kalaupun berhasil pulang, yang dibawa untuk keluarga bukanlah rezeki dari rantau, melainkan cedera atau cacat. Bahkan, ada juga yang tinggal nama dan kenangan karena pulang kampung dengan tubuh terbujur kaku dalam peti jenazah. Memilukan!
Demikian catatan saya untuk kita semua. Harapan saya, pemerintah benar-benar serius mengatur dan mengawasi pengiriman TKI ke luar negeri. Tentu jauh lebih baik lagi kalau negara kita tidak menjadi penyedia tenaga kerja murah untuk negara lain, apalagi negara dengan resiko keamanan dan keselamatan yang tinggi bagi pekerja kita. Untuk itu, pemerintah pusat maupun daerah harus memenuhi kewajibannya menyediakan lapangan kerja bagi rakyat serta menjamin upah kerja yang layak dan memadai.
Labels:
ekonomi
3:28 AM
Omong tentang industri mungkin orang selalu pikir tentang sesuatu yang rumit dan jumlah rupiah yang besar. Industri artinya rajin. Maka kalau kita bicara tentang industri, kita omong-omong tentang kerajinan. Kita bicara tentang bagaimana orang meningkatkan penghasilan melalui ketrampilan tangan atau mesin.
Ketika akan ke Jakarta, saya sempat mampir di kantor bupati Nagekeo dan sedikit tatap muka dan omong-omong dengan Bapa Bupati. Sedikit pamer, saya membuka laptop memperlihatkan foto-foto orang Keo Tengah membuat kripik jagung. Proyek makanan ringan dari jagung, pisang dan tepung ikan sempat didengung keras di Nagekeo. Sejumlah anggaran telah dihabiskan untuk mengirim orang-orang kampung menimba ilmu di Sulawesi. Disana-sini sejumlah orang membuat kripik jagung sebagai hasil pendidikan dengan biaya pemerintah daerah yang minim dana itu.
Departemen Perindustrian Kabupaten Nagekeo sempat membuat proposal untuk menginvestasi peralatan industri, menggoreng, mengepak hasil kripik setengah jadi dari rakyat. Saya sempat membaca proyek ideal itu dan pernah berpikir terlibat di proyek ini. Tetapi sayang sampai saat ini hanya berhenti sebagai program. Tidak ada realisasi.
Mengirim begitu banyak orang untuk belajar akhirnya menuai kesia-siaan. Seharusnya pemerintah cukup mengirim sejumlah orang yang punya jiwa wiraswasta. Kemudian dia kembali dengan ketrampilan dan menularkan pada karyawannya.
Mengangkat masalah industri di Nagekeo di sini bukan untuk mengurangi rasa hormat saya pada petinggi di sana. Saya hanya mau mengatakan bahwa sebagai orang Nagekeo, saya melihat banyak peluang disana. Semisal nanas dan pisang yang terbuang di Keo Tengah masih bisa diolah menjadi keripik. Kita juga bisa mengemas kopi Nagekeo jadi buah tangan melalui bhoku-bhoku (tabung bambu). Juga arak dari pohon lontar bisa dikemas seperti minuman alkohol Bali.
Berbagai industri rakyat bisa digalakkan di Nagekeo. Ada tenun termasuk tenun ikat yang semakin di tinggalkan, anyaman pandan dan lontar serta berbagai industri makanan kecil. Kita bisa belajar dari daerah lain di pulau Jawa selain minyak cengkeh dari Mauponggo. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua yang mencintai Nagekeo. Modhe modhe Nagekeo soo modhe. Pawe pawe kita ta Keo Nage. Pawe pawe jeka nipi nande. Mari kita bangun Nagekeo.
NAGEKEO DAN GEMA INDUSTRI RAKYAT
Omong tentang industri mungkin orang selalu pikir tentang sesuatu yang rumit dan jumlah rupiah yang besar. Industri artinya rajin. Maka kalau kita bicara tentang industri, kita omong-omong tentang kerajinan. Kita bicara tentang bagaimana orang meningkatkan penghasilan melalui ketrampilan tangan atau mesin.
Ketika akan ke Jakarta, saya sempat mampir di kantor bupati Nagekeo dan sedikit tatap muka dan omong-omong dengan Bapa Bupati. Sedikit pamer, saya membuka laptop memperlihatkan foto-foto orang Keo Tengah membuat kripik jagung. Proyek makanan ringan dari jagung, pisang dan tepung ikan sempat didengung keras di Nagekeo. Sejumlah anggaran telah dihabiskan untuk mengirim orang-orang kampung menimba ilmu di Sulawesi. Disana-sini sejumlah orang membuat kripik jagung sebagai hasil pendidikan dengan biaya pemerintah daerah yang minim dana itu.
Departemen Perindustrian Kabupaten Nagekeo sempat membuat proposal untuk menginvestasi peralatan industri, menggoreng, mengepak hasil kripik setengah jadi dari rakyat. Saya sempat membaca proyek ideal itu dan pernah berpikir terlibat di proyek ini. Tetapi sayang sampai saat ini hanya berhenti sebagai program. Tidak ada realisasi.
Mengirim begitu banyak orang untuk belajar akhirnya menuai kesia-siaan. Seharusnya pemerintah cukup mengirim sejumlah orang yang punya jiwa wiraswasta. Kemudian dia kembali dengan ketrampilan dan menularkan pada karyawannya.
Mengangkat masalah industri di Nagekeo di sini bukan untuk mengurangi rasa hormat saya pada petinggi di sana. Saya hanya mau mengatakan bahwa sebagai orang Nagekeo, saya melihat banyak peluang disana. Semisal nanas dan pisang yang terbuang di Keo Tengah masih bisa diolah menjadi keripik. Kita juga bisa mengemas kopi Nagekeo jadi buah tangan melalui bhoku-bhoku (tabung bambu). Juga arak dari pohon lontar bisa dikemas seperti minuman alkohol Bali.
Berbagai industri rakyat bisa digalakkan di Nagekeo. Ada tenun termasuk tenun ikat yang semakin di tinggalkan, anyaman pandan dan lontar serta berbagai industri makanan kecil. Kita bisa belajar dari daerah lain di pulau Jawa selain minyak cengkeh dari Mauponggo. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua yang mencintai Nagekeo. Modhe modhe Nagekeo soo modhe. Pawe pawe kita ta Keo Nage. Pawe pawe jeka nipi nande. Mari kita bangun Nagekeo.
Labels:
ekonomi












