Latest Post
Showing posts with label Isu dan Wacana. Show all posts
Showing posts with label Isu dan Wacana. Show all posts

PLURALISME UNTUK DEMOKRASI SUBSTANSI DI INDONESIA

Written By Unknown on May 18, 2013 | 11:23 AM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Demokrasi pada hakikatnya mengandung nilai-nilai yang inklusif, yaitu mempertemukan segala yang berbeda atau berlainan melalui konsepsi politik yang disebut human qua citizen. Indoensia sebagai negara demokrasi sudah seharusnya mengembangkan nilai-nilai yang demikian ini, agar terhindar dari negara demokrasi sekadar dalam sebutan belaka.
 
Inklusivitas demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat, penekanan “oleh semua rakyat” disini harusnya dilihat sebagai ciri identitas kolektif yang kuat dari demokrasi. Demokrasi menuntut solidaritas dan komitmen bersama dari semua rakyat dengan tingkatan toleransi multikultural yang tinggi. Oleh karena itu untuk mengontrol segala perbedaan dalam demokrasi, hendaknya nilai-nilai mutual understanding, mutual trust, dan mutual commitment selalu diperbaharui. Sungguh ini suatu tantangan bagi sistem perpolitikan Indonesia.

Pascareformasi Indonesia dihadapkan pada situasi yang bisa dikatakan semacam politik keterbukaan pada segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kondisi seperti ini, kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda-beda menuntut diakuinya hak-hak serta identitas masing-masing dalam bentuk tuntutan dan partisipasinya yang selama masa Orde Baru ditekan untuk diam dan menerima apa saja kebijakan pemerintah kala itu. Hal ini bisa dikatakan sebagai sebuah ledakan sosial. Indonesia sebagai negara dengan berbagai etnik, agama, budaya, kelompok sosial, dan nilai-nilai sosialnya sendiri, telah menjadi permasalahan nasional dalam menciptakan satu kesatuan tatanan masyarakat yang demokratis sejak awal berdirinya negara ini. Dari segala macam keberagaman, tidak jarang malah timbul pergesekan yang mencuatkan konflik sosial baik horizontal maupun vertikal. Pada perkembangannya, hal ini kemudian menciptakan ruang bagi perpecahan dan disintegrasi sosial.

Kondisi semacam itu kian lengkap dengan adanya kelompok mayoritas dan minoritas di dalamnya, baik sercara etnik maupun agama bahkan kelompok kepentingan. Tidak bisa dipungkiri bahwa adanya kelompok mayoritas dan minoritas telah menjadi modal bagi lahirnya diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan terhadap kelompok yang memiliki perbedaan nilai-nilai sosial. Pluralitas, perbedaan, dan diversitas tidak lagi dilihat sebagai suatu mata rantai yang memperkokoh persatuan, sehingga dalam perjalanan bangsa Indonesia aksi-aksi separatis (pemisahan diri) juga selau berjalan beriringan dengan berbagai tuntutan. Salah satu contohnya adalah merdekanya Timor-Timur yang aksi separatisnya berlangsung selama puluhan tahun. Bahkan, yang hingga saat ini masih terjadi adalah aksi separatis di Papua, Maluku, dan Aceh[1] dengan masing-masing wujud, skala dan intensitasnya.

Permasalahan pluralitas di Indonesia jelas-jelas telah mengancam integrasi bangsa. Pancasila, UUD 1945, dan slogan NKRI sebagai pemersatu bangsa nyaris-nyaris menjadi simbol belaka. Ini terjadi bukanlah karena kemauan kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat tersebut, tetapi lebih disebabkan oleh ketidakpuasan akibat secara ekonomi dan politik hak-hak mereka tidak terpenuhi. Bahkan institusi dan struktur kemasyarakatn yang sudah turun-temurun mereka jalani sebagai pengaturan kehidupan berpemerintahan khas setempat, tercerabut oleh keseragaman akibat kebijakan dan perundang-undangan yang sentralistik. Hal inilah yang menjadi tuntutan gerakan-gerakan separatis di Indonesia, dan sebagian besar kelompok sosial. Kita tahu bahwa selama masa Orde Baru hal ini bukanlah sesuatu yang tidak lumrah, namun nyatanya angin reformasi yang berhembus selama 13 tahun hingga kini tidak benar-benar membawa perubahan yang signifikan dalam segala aspek kehidupan sosial. Pembangunan ekonomi dan sentralisasi politik yang pada masa Orde Baru hanya terjadi atau dilakukan di Indonesia bagian barat, serta praktik-praktik KKN, semakin merajalela di era reformasi ini.

Seperti yang telah dikatakan di atas, bahwa pluralitas yang tidak diiringi dengan keadilan sosial, baik secara ekonomi, politik, dan hukum akan sangat membahayakan integrasi bangsa, bahkan lebih jauh lagi telah mencederai demokrasi. Nilai-nilai demokrasi seperti keadilan sosial, kebebasan, diakuinya hak-hak individu, serta norma-norma sosial dan kearifan lokal bangsa Indonesia, terkadang telah diabaikan untuk mendapatkan jabatan tertentu, maupun keuntungan finansial. Sungguh hal semacam itu menjadi semacam paradoks di Indonesia yang mengklaim sebagai negara demokrasi terbesar dengan keberagamana yang mampu dipersatukan dalam suatu negara berdaulat yang eksis hampir 70 tahun. Kemudan timbul pertanyaan, apa yang salah dengan bangsa ini? Apakah esensi demokrasi tidak dipahami secara benar oleh bangsa Indonesia?.Makalah ini dibuat untuk menjelaskan bagaimana seharusnya kepluralitasan bangsa Indonesia seharusnya menjadi faktor penguat demokrasi, selain itu makalah ini juga berusaha mencari kesalahan-kesalahan yang selama ini dilakukan baik oleh pemerintah dalam bentuk kebijakan-kebijakannya maupun hubungan dalam sistem sosial baik secara horizontal maupun vertikal.



B. Rumusan Masalah
Perumusan masalah yang berusaha dicari jawabannya dalam makalah ilmiah ini adalah :

1. Bagaimana peran pluralisme di negara demokrasi?

2. Bagaimana pengaruh pluralisme terhadap penguatan demokrasi di Indonesia?



C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah sebaga berikut :

1. Untuk mengetahui nilai-nilai pluralisme di Indonesia dan pelaksanaannya dalam satu kesatuan Negara Republik Indonesia.

2. Memenuhi syarat tugas kelompok matakuliah pembangunan politik

 
BAB II
LANDASAN KONSEP

A. Pluralisme
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pluralisme berasal dari kata “plural” yang berarti kemajemukan atau keanekaragaman, dan “isme” yang berarti paham. Jadi, pluralisme adalah paham kemajemukan. Dalam rangka membentuk masyarakat beragama yang rukun dan damai, para ahli banyak menekankan tentang pluralisme. Paham ini menitik beratkan pada aspek persamaan termasuk dalam hal agama itu sama, dalam artian banyak jalan menuju surga. Sebenarnya paham pluralisme merupakan paham yang sudah cukup lama. Paham ini muncul bersamaan dengan modernisasi negara-negara Barat. Dengan kata lain, paham ini pada awalnya muncul dari belahan dunia Barat,yakni Eropa. Dalam paham pluralism, agama yang berkembang di Barat sendiri terdapat sekurang-kurangnya dua aliran yang berbeda yaitu: paham yang dikenal dengan program teologi global (global theology) dan paham kesatuan transenden agama-agama (Transcendent Unity of Religions). Kedua aliran ini telah membangun gagasan, konsep dan prinsip masing-masing yang akhirnya menjadi paham yang sistemik. Karena itu yang satu menyalahkan yang lain.

Munculnya kedua aliran di atas juga disebabkan oleh dua motif yang berbeda, meskipun keduanya muncul di Barat dan menjadi tumpuan perhatian masyarakat Barat. Bagi aliran pertama, yang umumnya diwarnai oleh kajian sosiologis, motif terpentingnya adalah karena tuntutan modernisasi dan globalisasi. Karena pentingnya agama di era globalisasi ini, maka hubungan globalisasi dan agama menjadi tema sentral dalam sosiologi agama. Tampaknya agama dianggap sebagai kendala bagi program globalisasi. Tidak aneh jika seminar tentang dialog antar agama, global ethic, religious dialogue yang diadakan oleh World Council of Religions dan lembaga lain sangat marak diseluruh dunia. Organisasi non pemerintah di dunia ketiga pun mendapat kucuran dana dengan mudah. Bukti bahwa Barat berkepentingan dengan paham ini dapat dilihat dari tema yang diangkat jurnal rintisan oleh Zwemmer The Muslim World pada edisi terkininya (volume 94 No.3, tahun 2004. Hal. 3). Jurnal missionaris itu menurunkan tema pluralisme agama dengan fokus dialog Islam - Kristen. Sudah tentu disitu framework Barat sangat dominan.

Berbeda dari motif aliran pertama yang diwarnai pendekatan sosiologis, motif aliran kedua yang didominasi oleh pendekatan filosofis dan teologis Barat justru kebalikan dari motif aliran pertama. Kalangan filosof dan teolog justru menolak arus modernisasi dan globalisasi yang cenderung menepikan agama tersebut dengan berusaha mempertahankan tradisi yang terdapat dalam agama-agama itu sendiri. Yang pertama memakai pendekatan sosiologis, sedangkan yang kedua memakai pendekatan religius filosofis. Solusi yang ditawarkan kedua aliran inipun berbeda. Berdasarkan motif sosiologis yang mengusung program globalisasi, aliran pertama menawarkan konsep dunia yang tanpa batas geografis kultural, ideologis, teologis, kepercayaan dan lain-lain. Artinya identitas kultural, kepercayaan dan agama harus dilebur atau disesuaikan dengan zaman modern. Kelompok ini yakin bahwa agama-agama itu berevolusi dan nanti akan saling mendekat yang pada akhirnya tidak akan ada lagi perbedaan satu agama dengan agama lainnya. Agama-agama itu kemudian akan melebur menjadi satu. Berdasarkan asumsi itu, maka John Hick, salah satu tokoh terpentingnya, segera memperkenalkan konsep pluralisme agama dengan gagasannya yang ia sebut global theology. Selain Hick di antara tokohnya yang terkenal adalah Wilfred Cantwell Smith, pendiri McGill Islamic Studies. Tokoh-tokoh lain dapat dilihat dari karya Hick berjudul Problems of Religious Pluralism. Pada halaman dedikasi buku ini John Hick menulis yang terjemahannya begini: Kepada kawan-kawan yang merupakan nabi-nabi pluralisme agama dalam berbagai tradisi mereka: Masau Abe dalam agama Buddha, Hasan Ashari dalam Islam, Ramchandra Gandhi dalam agama Hindu, Kushdeva Singh dalam agama Sikh, Wilfred Cantwell Smith dalam agama Kristen dan Leo Trepp dalam agama Yahudi.

Solusi yang ditawarkan oleh aliran kedua adalah pendekatan religius filosofis dan membela eksistensi agama-agama. Bagi kelompok ini agama tidak bisa diubah begitu saja dengan mengikuti zaman globalisasi, zaman modern ataupun post-modern yang telah meminggirkan agama itu. Kelompok ini lalu memperkenalkan pendekatan tradisional dan mengangkat konsep-konsep yang diambil secara paralel dari tradisi agama-agama. Salah satu konsep utama kelompok ini adalah konsep sophia perrenis atau dalam bahasa Hindu disebut Sanata Dharma. Konsep ini mengandung pandangan bahwa di dalam setiap agama terdapat tradisi-tradisi sakral yang perlu dihidupkan dan dipelihara secara adil, tanpa menganggap salah satunya lebih superior dari pada yang lain. Agama bagi aliran ini adalah bagaikan jalan-jalan yang mengantarkan ke puncak yang sama.



B. Demokrasi
Konsep demokrasi berasal dari bahasa Yunani “demos” yang berarti rakyat dan “cratos” atau “cratein” yang berarti kekuasaan atau kedaulatan[2]. Dengan demikian demokrasi menunjukkan pola pemerintahan yang kekuasaan tertinggi dan kedaulatannya berasal dari rakyat baik secara langsung maupun melalui sistem perwakilan. Di zaman Yunani kuno ketika negara masih dalam bentuk negara kota (city state), sistem demokrasi yang dianut adalah langsung (direct democracy). Namun di negara modern sistem yang dianut umumnya adalah sistem perwakilan (representative democracy).

Demokrasi memiliki tiga unsur, yang pertama, pemerintahan dari rakyat (government of the people) yang mengandung arti apakah pemerintahan itu diakui secara sah atau tidak oleh rakyat yang diatur dalam konstitusi. Kedua, pemerintahan oleh rakyat (government by the people), yang mengandung arti bahwa pemerintahan yang sah menjalankan kekuasaannya atas nama rakyat bukan atas nama kelompok sosial tertentu atau partai politik. Sebagai konsekuensinya pemerintahan mendapat pengawasan dari rakyat baik secara langsung maupun melalui parlemen (DPR). Ketiga, pemerintahan untuk rakyat (government for the people), yang mengandung arti bahwa pemerintahan itu dijalankan untuk kepentingan rakyat yang merupakan amanat pemerintahan yang menganut sistem demokratis. Untuk itu pemerintah perlu mendengar dan menerima aspirasi rakyatnyat baik secara langsung atau melalui parlemen, yang kemudian diakomodasikan dalam bentuk kebijakan[3]. Demikianlah dalam negara demokrasi, pemerintah sebagai pemegang kekuasaan eksekutif melaksanakan contract social. Sehingga peranannya adalah mengurus kepentingan rakyat, pemerintah bertanggungjawab atas nasib rakyatnya baik yang menyangkut kesejahteraan hidupnya maupun keamanannya.

Negara demokratis, pemerintahannya membutuhkan kultur demokrasi untuk membuatnya tetap eksis, dalam artian masyarakatnya memiliki sikap yang positif dan proaktif terhadap norma-norma dasar demokrasi. Demokrasi merupakan proses pelaksanaan nilai-nilai keadaban (civility) dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain demokrasi merupakan proses menuju civil society, yaitu masyarakat modern yang berkeadaban, yang menghormati dan berupaya merealisasikan nilai-nilai demokrasi. Perlu diingat bahwa pemerintahan itu dijalankan oleh manusia yang memiliki kelemahan, yang memungkinkanya terjadi penyalahgunaan kekuasaan, oleh karena itu perlu ada aturan hukum yang mengaturnya (konstitusi dan hukum positif). Hal inilah yang menyebabkan demokrasi dlam pemerintahan lazim disebut sebagai demokrasi konstitusional (constitutional democracy dan government by laws). Oleh karena itu, sangat perlu ditegakkannya demokrasi, yang unsur-unsur penopangnya antara lain, negara hukum yaitu negara yang mampu memberikan perlindungan hukum bagi warga negaranya melalui lembaga-lembaga peradilan yang bebas dan tidak memihak serta terjaminnya hak-hak azazi manusia (HAM). Masyarakat madani, yaitu masyarakat yang egaliter dan berkeadaban yang bebas dari pengaruh kekuasaan dan tekanan negara serta berpartisipasi aktif sebagai elemen yang sangat signifikan dalam membangun demokrasi. Oleh karena itu, sangat perlu adanya sikap terbuka, percaya dan menjunjung nilai-nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Infrastruktur politik berupa lembaga partai politik, kelompok gerakan, dan kelompok penekan, serta kelompok kepentingan yang mampu menjalankan fungsinya masing-masing tetap berdasarkan pada nilai-nilai dasar demokrasi.
 

BAB III
PEMBAHASAN

A. Geopolitik, Geostrategi, dan Wawasan Nusantara

Sebelum kita membahas judul sub bab di atas, perlu kita bahas terlebih dahulu adalah kondisi geografi dan demografi Indonesia. Secara geografis Indonesia merupakan negara kepualuan yang luas dimana laut merupakan faktor yang dominan. Terdapat 17. 504 pada saat proklamasi kemerdekaan berdasarkan ordonasi 1939 dengan luas wilayah sekitar 1,9 juta km2. Kini setelah deklarasi Juanda 1957 mencapai lebih dari 5 juta km2 yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Bahkan sejak mendapat hak negara pantai berupa Zona Ekonomi Ekonomi Eksklusif berdasarkan konvensi hukum laut PBB pada tahun 1982 luas Indonesia mencapai 8 juta km2, dari semua luas wilayah Indonesia hanya 1/3 nya merupakan wilayah daratan sedangkan 2/3nya lautan[4]. Menyangkut kondisi demografi, berdasarkan data tahun 2008 jumlah penduduk Indonesia telah melampaui angka 220 juta jiwa dengan perkembangan penduduk setiap tahun 2.24%. konsentrasi penduduk terbesar ada di pulau Jawa dan Madura alu diikuti oleh Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, kepulauan Maluku, dan Papua. Berdasarkan data-data di atas dapat kita bayangkan betapa kompleksnya kondisi geografi dan demografi Indonesia, kesemuanya itu memiliki kultur yang berbeda-beda, baik berupa bahasa, adat istiadat, tampilan fisik, agama, dan etnis. Sehingga di lain pihak pemerintah berusaha untuk mencapai atau berjuang untuk mencapai cita-cita bangsa, di lain pihak tidak kalah penting terdapat persoalan vital yaitu, tingkat kemampuan produksi nasional yang rendah.

Geopolitik merupakan politik yang berlandaskan pada pengaruh kondisi dan letak geografi suatu negara. Kita tahu bahwa puluhan tahun sejak awal kemerdekaan hingga awal-awal reformasi, seistem politik dan ekonomi Indonesia bersifat sentralistik, yaitu Jakarta dan Jawa. Pusat pemerintahan ada di Jakarta begitupula pusat ekonomi, hal ini secara otomatis mempengaruhi daerah-daerah di sekitarnya atau di puau Jawa menjadi bergeliat seiring perkembangan ibukota. Berdasarkan pada hal tersebut, seiring waktu pulau Jawa terutama Jakarta menjadi pusat tujuan urbanisasi bagi sebagian masyarakat Indonesia, hal ini telah menciptakan berbagai macam kekompleksan masalah sosial. Sehingga pemerintah merasa perlu untuk membuat kebijakan bagi pulau Jawa berupa pembangunan infrastruktur dan sebagainya. Perkembangan di Pulau Jawa juga sangat mempengaruhi perkembangan di Madura, Bali, Sumatera dan Kalimantan, sehingga pembangunan infrastruktur secara langsung telah menganaktrikan daerah-daerah di Indonesia Bagian Timur. Berbagai program transmigrasi keluar dari pulau Jawa ternyata tidak menjadikan pulau lain seperti Jawa, hal ini yang disadari oleh pemerintahan setelah reformasi sehingga membangun beberapa pusta kota-kota besar di beberapa titik di Indonesia seperti Medan, Surabaya, Bali, dan Makassar.

Setelah berbagai masalah geografi dan demografi Indonesia yang sangat majemuk telah menjadi semacam ancaman bagi integritas bangsa, hal ini tidak benar-benar didukung dengan kebijakan-kebjikan pemerintah yang mampu mengintegrasi bangsa secara politik dan ekonomi. Sentralistik bukanlah jawabannya, sentralistik hanya akan menimbulkan kecemburuan. Hal inilah yang terjadi, jika kita lihat dari contoh yang sederhana, rata-rata tingkat kelulusan SMA daerah-daerah di Indonesia Barat selalu lebih baik daripada daerah dari Indonesia Timur. Hal ini jelas-jelas dipengaruhi oleh perbedaan sarana prasana pendukungnya. Contoh lain, jika kita lihat permasalahan premanisme di Jakarta, preman-preman yang paling banyak adalah yang berasal dari Indonesia Timur, apa alasannya?. Ketidakmampuan mereka mendapatkan pendidikan yang layak akibat tidak didukung dengan sarana prasarana yang memadai serta biaya pendidikan yang tinggi telah membuat sebagian besar orang Indonesia Timur putus sekolah, dan mereka pun terpaksa merantau. Di rantauan mereka tidak mendapatkan pekerjaan yang layak karena tidak memiliki ijazah, sehingga mereka menjadi kuli kasar yang kemudian berujung pada profesi yang berbau kekerasan. Ini bukan keinginan mereka, ini terjadi secara sistematis, meskipun ada beberapa alasan tertentu namun alasan ini merupakan alasan utamanya.

Kesemuanya itu telah menimbulkan ketimpangan-ketimpangan sosial akibat kebijakan pemerintah Indonesia sendiri. Ketimpangan sosial ini memang bukan hanya terhadap daerah di Indonesia Timur, hal ini juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia Barat, namun memang ketidakadilan sosial terbesar terjadi terhadap daerah di Indonesia Timur. Lebih lanjut kita lihat ada beberapa hal yang telah menjadi sebuah aturan baku yang kurang lebih telah menjadi rahasia umum, bahwa yang menjadi alat pemersatu bangsa adalah etnis Jawa, dan agama Islam, yang menjadi presiden harus orang Jawa, dan Bergama Islam. Hal ini memang bukan aturan baku, namun ini telah menjadi sebuah aturan tidak tertulis dan memiliki legitimasi namun terjadi di dalam perpolitikan Indonesia, seperti yang diungkapkan dalam beberapa pertemuan kuliah di pascasarjana Universitas Nasional dalam kuliah budaya dan pemikiran politik Indonesia dan matakuliah kekutan-kekutan politik Indonesia. Jika hal ini merupakan sebuah kebenaran mutlak maka mampu menimbulkan tambahan kecemburuan sosial dari kelompok sosial lainnya, karena kita tahu bahwa Indonesia bukan hanya etnis Jawa dan agama Islam, meskipun kedua hal tersebut adalah kelompok mayoritas.



B. Identitas dan Diferensiasi

Pembahasan tentang pluralisme dan multikulturalisme adalah politik diferensiasi. Fakta tentang pluralitas dan keoeksistensi di tengah perbedaan mulai disadari, kesadaran tersebut berangkat dari sejarah ketika fakta tentang pluralitas dan perbedaan ditengarai sebagai sumber konflik juga pertentangan antarsesama manusia. Semua ini disebabkan oleh gerakan liberalism politik yang memerjuangkan keadilan universal. Seperti yang pernah dikatakan oleh Francis Fukuyama, bahwa akan selalu terjadi revolusi (perubahan sistem sosial) di setiap masa akibat kecintaan pada kesetaraan. Politik diferensiasi telah berkembang menjadi kekuatan yang juga melawan liberalism yang buta akan perbedaan. Hal ini berkaitan dengan perjuangan untuk mengakui hak-hak dan identitas partikular dari kelompok-kelompok minoritas. Sehingga tidak mengherankan d Indonesia yang sangat beragam ini dalam sejarahnya hingga saat ini sering dan selalu terjadi pergesekan sosial bahkan konflik yang berbau etnis atau agama. Konflik-konflik atau pergesekan ini tidak saja hanya disebabkan oleh ketidakadilan ekonomi maupun politik, namun juga disebabkan oleh identitas mereka yang diabaikan. Menurut Will Kymlicka, mungkin lebih adil jika kelompok-kelompok sosial yang berbeda diberi juga aturan khusus yang berbeda, Kymlicka menganggap di tengah pluralitas aturan-aturan yang diciptakan sebaiknya tidak boleh mengabaikan perbedaan[5].

Di Indonesia dengan berbagai macam kemajemukkan dalam masyarakat, menurut beberapa ahli perlu diubah masyrakat yang majemuk ini menjadi masyarakat multikultural, dengan cara mengadopsi ideologi multikulturalisme sebagai pedoman hidup dan sebagai keyakinan bangsa Indonesia untuk diaplikasikan dalam berbagai aspek sosial. Persoalan ini di Indonesia tidak hanya sebatas pada pengakuan tentang adanya perbedaan dalam masyarakat tetapi lebih dari itu, yaitu melegitimasi perbedaan-perbedaan tersebut agar dapat diterima sehingga terciptanya keadilan sosial. Yang terjadi di Indoensia adalah semua kelompok maupun individu sosial diberi kesempatan yang sama untuk berkembang, namun hal ini tidak seiring dengan pembangunan infrastruktur maupun kebijakan publik yang merata di setiap daerah, maupun jenjang sosial. Selama masa orde baru, kesemuanya itu hanya dititikberatkan pada daerah di Indonesia bagian barat, sedangkan Indonesia Timur seolah ditinggalkan sebagai daerah pinggiran yang harus berjuang sendiri. Sehingga ribuan kelompok majemuk di Indonesia Timur merasa telah dabaikan, dan identitas keIndonesiaan mereka hanya merupakan lambing belaka, namun SDA mereka dieksplorasi untuk kepentingan negara, perusahaan asing maupunkelompok-kelompok tertentu.

Apa yang terjadi di masa orde baru baru tidak jauh berbeda dengan di masa pasca reformasi ini. Sistem perpolitikan dan ekonomi yang masih sentralistik, dan penguasaan jabatan-jabatan politis oleh kelompok-kelompok tertentu, telah menempatkan ketidakpuasan kelompok sosial lainnya, sehingga dalam berbagai isu-isu nasional selalu ditanggapi dengan aksi demonstrasi besar-besaran, hal ini memang sudah sepatutnya terjadi di negara demokrasi seperti Indonesia, namun yang terjadi adalah sering terjadinya aksi anarkis oleh masyarakat dalam menyampaikan aspirasinya. Hal ini merupakan cerminan bahwa hak-hak masyarakat, perbedaan-perbedaan dalam masyarakat belum benar-benar diakomodir secara baik oleh pemerintah. Jika kita lihat dari hakikat demokrasi, langkah awal yang harus dijalani adalah pemerintahan oleh, untuk, dan dari rakyat, lalu negara hukum[6]. Namun yang terjadi adalah lompatan langsung ke negara hukum ala Indonesia, sedangkan pemerintahan oleh rakyat, untuk rakyat, dan dari rakyat, diabaikan begitu saja.



C. Alat Pemersatu Bangsa

Sebagai sebuah negara yang telah berdiri hampir 70 tahun tentu pada awal pendiriannya di tahun 1945 terdapat simbol-simbol atau nilai pemersatu etnis-etnis, agama-agama, dan kelompok-kelompok sosial yang ada pada saat itu. Jika ditilik dari sejarah, masyarakat Indonesia memiliki persamaan nasib yang sama yaitu dijajah oleh Portugis, Belanda, dan Jepang, persamaan nasib menjadi alat pemicuawal bersatunya bangsa Indonesia. Selanjutnya adalah bahasa, pancasila, pembukaan UUD 1945, UUD 1945, tokoh, etnis melayu, dan agama islam[7]. Dua poin terakhir dikatakan sebagai alat pemersatu karena merupakan kelompok mayoritas yang hampir ada di seluruh nusantara. Pancasila merupakan hasil kesepakatan parapendiri bangsa ini, yang isinya telah mengakomodir atau telah menjamin berbagai kemajemukkan bangsa Indonesia. Pancasila merupakan nilai dasar negara Indonesia, namun juga sering disebut sebagai filsafat bangsa Indonesia, falsafah bangsa Indonesia, maupun sebagai hukum positif tertinggi bangsa Indonesia. Tentunya semuanya memiliki penjelasan-penjelasan masing-masing, namun dalam perjalanannya pancasila seolah ditinggalkan dan hanya menjadi simbol belaka, hal ini yang disadari oleh Soeharto yang kemudian membuat program P4 yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pancasila itu sendiri. Pada masa kini, pancasila jelas-jelas bukan lagi menjadi dasar negara, atau hukum positif tertinggi yang harus dipatuhi oleh setiap bangsa Indonesia. Praktek KKN, keadilan hanya untuk yang memiliki uang, hak-hak rakyat kecil diabaikan, separatisme, organisasi agama melakukan aksi anarkis, merupakan hal-hal yang terjadi dan seolah menjadi lazim saat ini yang menunjukkan bahwa nilai-nilai dalam pancasila dan UUD 1945 telah diabaikan.

Arus globalisasi juga memiliki peran penting dalam mempengaruhi budaya bangsa Indonesia. Kata-kata dalam Bahasa Inggris telah menggantikan beberapa bahasa Indonesia dalam interaksi sesama orang Indonesia, dan hal ini dianggap biasa. Globalisasi yang tidak bisa dikendalikan telah melanda bangsa Indonesia telah sangat mempengaruhi identitas bangsa Indonesia, nilai-nilai kearifan lokal setiap etnis mulai ditinggalkan. Hal ini menjadi permasalahan yang semakin kompleks ketika bangsa Indonesia saat ini tidak memiliki seorang tokoh nasional yang memiliki dukungan mayoritas penduduk Indonesia selayaknya Soekarno dan Moh. Hatta yang mendapat dukungan seluruh masyarakat Indonesia pada awal kemerdekaan. Paling tidak seorang tokoh yang memiliki pengaruh besar, kharisma, bekerja untuk rakyat dan memiliki reputasi yang baik serta menjunjung nilai-nilai demokrasi. Mengapa tokoh pemersatu menjadi pentig, jika dilihat dari persepktif psikologi komunikasi, seorang tokoh yang memiliki beberapa hal di atas akan sangat mudah mempengaruhi opini publik dan mendapat dukungan dalam mengadakan perubahan sosial.

Pemimpin politik saat ini baik dalam pemerintahan, maupun dalam lembaga-lembaga politik maupun kelompok-kelompok kepentingan tidak mampu menciptakan bentuk masyarakat madani seperti yang digariskan dalam nilai-nilai demokrasi. Masyarakat menjadi acuh terhadap isu-isu nasional maupun segala macam kebijakan pemerintah, hal ini bukan karena masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dengan budaya politik parokial, tetapi masyarakat sudah bosan dengan pemerintahnya sendiri karena didasarkan pada pengalaman dan perjalanan bangsa ini yang tidak urung menciptakan kesejahteraan dan keadilan sosial meskipun terus berganti pemimpin bangsa[8]. Segala macam permasalahan bangsa Indonesia yang tidak pernah terselesaikan telah menimbulkan sikap antipati masyarakat terhadap pemerintah yang hampir menyeluruh di seluruh Indonesia dalam setiap pemberitaan di media massa, setiap kali presiden atau wakil presiden berkunjung ke daerah selalu saja mendapat sambutan berupa demonstrasi baik oleh mahasiswa maupun masyarakat. Hal ini menunjukkan rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemimpin bangsa Indonesia, dan semua ini sangat membahayakan sistem demokrasi, lebih jauh lagi membahayakan integritas bangsa.

Vitalnya pluralisme di Indonesia semakin berada di ujung tanduk apabila pemimpin agama tidak mampu menempatkan perbedaan sosial sebaga sesuatu yang harus dijunjung tinggi untuk dihargai, karena kita tahu bahwa pemimpin agama di Indonesia memiliki pengaruh yang cukup besar di tengah masyarakat dalam kaitannya dengan moral dan norma-norma sosial. Pada tanggal 28 Juli 2005, MUI menerbitkan fatwa yang melarang pluralisme. Dalam fatwa tersebut, pluralisme agama,sebagai obyek persoalan yang ditanggapi, didefinisikan sebagai: "Suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga". Dengan demikian, MUI menyatakan bahwa Pluralisme dalam konteks yang tertera tersebut bertentangan dengan ajaran Agama Islam[9]. Dengan adanya definisi pluralisme yang berbeda tersebut, semakin timbul polemik panjang mengenai pluralisme di Indonesia.



BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Segala macam kompleksitas dan permasalahan bangsa Indonesia mengenai keberagaman etnik, agama, ras, dan budaya telah memunculkan disintegrasi nasional yang membahayakan negara kesatuan Republik Indonesia. Masalah-masalah yang diungkapkan secara lugas dalam makalah ini bukan untuk mendiskreditkan kelompok sosial tertentu, atau bahkan menjadikan kita bangsa Indonesia menjadi frustasi dan semakin membenci satu sama lain termasuk membenci pemerintah, hal tersebut akan semakin menambah persoalan sosial yang akan semakin rumit. Kesimpulan yang bisa diambil dari makalah ini antara lain :

1. Sebagai sebuah negara yang mengklaim diri sebagai satu-satunya negara kepulauan terbesar dengan berbagai kemajemukan budayanya, Indonesia tidak mampu memenuhi nilai-nilai dasar dari paham demokrasi itu sendiri.

2. Kesadaran secara umum, dalam hal ini kesadaran nasional akan realitas sosial yang seharusnya diakomodir dan diunifikasi dalam sebuah wadah politik yang mampu mencakup semua kepentingan kelompok sosial di Indonesia sangat minim.

3. Nilai-nilai kearifan lokal bangsa yang sebagian besar menyangkut nilai kolektif semakin ditinggalkan berganti menjadi sekularisme sebagai akibat dari globalisasi dan tuntutan hidup yang semakin tinggi, sehingga pluralisme di Indonesia semakin berada di ujung tanduk, dalam artian tidak memiliki tempat d tengah masyarakat untuk dijunjung sebagai suatu kebanggaan. Hal ini dikarenakan oleh rendahnya pemahaman substansi demokrasi baik oleh elit politik, maupun masyarakat luas.

4. Kesadaran moral dan etika politik tidak dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai akibat oleh terlalu lamanya bangsa Indonesia hidup di dalam sistem pemerintahan yang mengkultuskan penguasa, sehingga ketika diberi kebebasan pada masa reformasi masyarakat Indonesia mengalami kebingungan dan mulai membentuk dan menjadikan kelompok sosial sebagai tempat mengapresiasikan keinginannya berdasarkan kesamaan ideologi, agama, budaya, dan etnis.



B. Saran

Berdasarkan makalah ini dan kesimpulan yang diambil, maka penulis dapat memberikan saran kepada masyarakat Indonesia, pemerintah dan siapapun yang berwenang, agar pluralitas seharusnya menjadi sarana penguat demokrasi dan integrasi bangsa, yaitu :

1. Pemerintah, lembaga-lembaga politik, dan kelompok kepentingan harus melaksanakan proses sosialisasi politik berkaitan dengan nilai-nilai demokrasi sehingga mampu menciptakan kelompok-kelompok sosial yang ada menjadi kelompok matau organisasi masyarakat madani.

2. Pemerintah perlu menyelesaikan masalah-masalah nasional yang menyimpang dari konstitusi, terutama praktek KKN sehingga mampu meningkatkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

3. Perlu ditingkatkan program pendidikan politik terutama pemahaman tentang demokrasi di dalam pendidikan formal maupun nonformal, sehingga dapat tercipta generasi-generasi baru atau pemimpin-pemimpin politik masa depan yang mengerti dan memahami demokrasi secara baik sehingga mampu juga menerima kemajemukan bangsa sebagai sebuah kekuatan bangsa.









Daftar Pustaka

Saleh, Hassan, Civic Education, Audi Grafika, 2009; Jakarta.

Kymlicka, Will, Kewarganegaraan Multikultural, Teori Liberal Mengenai Hak-Hak Minoritas, Jakarta; LP3ES, 2003.

Munandar, Haris, Pembangunan Politik, Situasi Global, dan Hak Asasi di Indonesia (kumpulan esai guna menghormati Prof. Miriam Budiardjo), Gramedia Pustaka Utama; 1994, Jakarta.

Dhae, D. Daniel, artikel reflektif yang dimuat dalam majalah Tempo dengan judul pemimpin yang menyesatkan, Tempo edisi maret 2009.

Wikipedia Indonesia, diakses pada tanggal 30 april 2013.

[1] Meskipun sudah diredam dengan MOU antara pemerintah dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tahun 2004 salah satunya adalah diberikannya status sebagai daerah otonomi khusus, pada bulan april tahun 2013 terjadi pengibaran bendera dengan lambing GAM di Aceh. Sedangkan Papua dengan gerakan Operasi Papua Merdeka (OPM) hingga saat ini masih melakukan aksi-aksinya dengan melakukan konfrontasi di daerah pegunungan tengah Papua. Maluku dengan gerakannya Republik Maluku Selatan (RMS) melakukan pergerakannya dari Belanda hingga ke Propinsi Maluku, gerakan ini cukup kuat di antara kalangan masyarakat Maluku yang beragama Kristen Protestan.

[2] Hassan Saleh, Civic Education, Audi Grafika, 2009; Jakarta. Hal. 131.

[3] Ibid. hal. 132

[4] Ibid., Hal. 241.

[5] Will Kymlicka, Kewarganegaraan Multikultural, Teori Liberal Mengenai Hak-Hak Minoritas, Jakarta; LP3ES, 2003. Hal. 51.

[6] Istilah negara hukum di Indonesia hampir dianggap hanya ketika seseorang melakukan pelanggaran hukumdan harus dihukum sesuai aturan yang berlaku, bukan lagi keadaan dimana hak-hak setiap warga negara dakui dan dilindungi oleh negara. Bisa kita lihat dari salah satu contoh di Jawa Timur ketika seorang nenek tua yang mencuri ayam tetangganya dihukum penjara 5 tahun, namun pemerintah tidak menyadari bahwa nenek tersebut melakukan pencurian tersebut disebabkan oleh kemiskinan yang sudah sangat kuat mencengkram hidup nenek tua tersebut, hingga untuk makan satu kali saja tidak mampu. Padahal dalam UUD 1945 Pasal 32 telah diatur bahwa kaum miskin menjadi tanggungjawab pemerintah.

[7] Haris Munandar, Pembangunan Politik, Situasi Global, dan Hak Asasi di Indonesia (kumpulan esai guna menghormati Prof. Miriam Budiardjo), Gramedia Pustaka Utama; 1994, Jakarta. Hal. 200

[8] Daniel D. Dhae, artikel reflektif yang dimuat dalam majalah Tempo dengan judul pemimpin yang menyesatkan, Tempo edisi maret 2009, kolom 3, hal 15.

[9] Wikipedia Indonesia, diakses pada tanggal 30 april 2013. 

Penulis : Gian Tue Mali

Catatan kecil Diskusi Pemuda, Premanisme, dan Kekerasan

Written By Unknown on April 22, 2013 | 3:18 PM


Tanggal 21 april 2013 bertepatan dengan hari Kartini, di aula wisma NTT di daerah Tebet, Jakarta, para pemuda-pemudi asal NTT yang ada di Jakarta baik itu mahasiswa maupun pekerja, dibawah pimpinan pemuda-pemudi Nagekeo Jakarta yang tergabung dalam HIMAPPEN JABODETABEK berkumpul dan berdiskusi tentang isu hangat yang sedang berkembang di Indonesia, yaitu isu Premanisme.

Diskusi yang diadakan di lantai dua Wisma NTT dengan izin kepala perwakilan NTT di Jakarta, Bapak Bertoldus Lalo, berlangsung hangat dan penuh emosional namun tetap mengedepankan nilai-nilai akademis. Sebagai bagian dari keluarga besar Nagekeo, premanisme akhir-akhir ini cukup melekat dalam stigma masyarakat luas, karena salah satu korban penembakan di LP Cebongan, Sleman adalah saudara kami dari kabupaten Nagekeo. Sehingga menjadi penting ketika dengan adanya hal tersebut, yang paling penting untuk dilakukan adalah penguatan moral dan akademis, bukannya melawan stigma tersebut dengan tindakan atraktif.

Mengapa? Karena jika kita lihat dari beberapa sisi, sebagai orang Nagekeo lebih jauh lagi sebagai orang NTT yang berasal dari belahan bumi Timur Indonesia, kami merupakan kelompok minoritas, belum lagi dilihat dari sisi agama. Kita tidak bisa mementahkan stigma tersebut, namun bukan berarti semua orang NTT adalah preman, ini yang harus digarisbawahi. Tetapi, bukannya untuk membela dan mengatakan keempat pelaku adalah bukan preman, namun yang ingin diperjuangkan adalah hak-hak hukum sebagai bagian dari bangsa ini.

Kembali ke persoalan penguatan moral dan akademis, isu hangat ini perlu dicermati secara dingin dan menjadi bahan pembelajaran bagi siapa saja terutama pemuda-pemudi NTT, bahwaa negara ini adalah negara hukum, artinya tidak boleh melanggar hukum jika tidak ingin hak-hak individu anda dilanggar. Penguatan moral dalam hal ini, adalah kembali menanamkan nilai-nilai budaya daerah yang diturunkan oleh nenekmoyang orang NTT sejak dahulu kala, yang penuh dengan nilai-nilai kesopanan, penghargaan, kesantunan, penghormatan, dan taat aturan. Nilai-nilai itu juga diajarkan atau ada di dalam agama katolik, agama yang menjadi mayoritas di NTT, Yesus telah hadir sebagai contoh dan teladan yang nyata bagi hidup orang katolik. Kasih sayang, cinta damai, taat hukum, berjiwa sosial, dan tenggang rasa, merupakan sedikit dari nilai-nilai katolik yang harus diterapkan dalam gaya hidup pemuda pemudi NTT saat ini.

Hal-hal di atas yang membuat sebagian orang NTT tidak terima dicap sebagai preman, namun tidak bisa juga mengentahkan fakta bahwa ada saudara-saudara dari NTT yang menjadi preman dengan berbagai alasan, itu kenyataan sosial dan merupakan bagian dari dinamika sosial. Sehingga tidak bisa dihilangkan namun bisa ditekan dengan berbagai hal termasuk kekerasan, namun tidaklah gampang jika kekerasan dibalas dengan kekerasan, menyadari hal tersebut makanya HIMAPPEN JABODETABEK melakukan diskusi publik ini untuk menyadarkan pemuda-pemudi yang sudah terlanjur emosional, untuk kembali tenang dan mulai membangun diri masing-masing dengan cara yang benar dan membuktikan kepada dunia suatu saat bahwa KAMI ORANG NTT BUKANLAH PREMAN!!!!

 
Penulis :Gian Tue Mali

Hugo Chavez, Penentang Kapitalis Semasa Hidup Hingga Wafat

Written By Unknown on March 18, 2013 | 5:18 AM

Hugo Chávez lahir pada tanggal 28 Juli 1954 di rumah nenek maternalnya, Rosa Inéz Chávez, rumah sederhana berkamar tiga yang terletak di desa Sabaneta, Barinas. Keluarga Chávez merupakan keturunan Amerindian, Afrika-Venezuela, dan Spanyol. Orang tuanya, Hugo de los Reyes Chávez dan Elena Frías de Chávez, adalah guru kelas pekerja-menengah bawah yang menetap di desa kecil Los Rastrojos. Hugo adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Adán Chávez adalah anak paling bungsu. Orang tua mereka hidup miskin, sehingga mereka mengirim Hugo dan Adán untuk tinggal bersama neneknya, Rosa, yang Hugo sebut sebagai "sosok yang murni... kasih sayang tulus, kebaikan sejati." Neneknya adalah penganut Katolik Roma dan Hugo menjadi putra altar di gereja setempat. Hugo menyebut masa kecilnya miskin dan sangat bahagia dan mengalami minder, kemiskinan, rasa sakit, kadang tidak bisa makan, serta ketidakadilan dunia. Mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar Julián Pino, hobi Chávez adalah menggambar, melukis, bermain bisbol, dan mempelajari sejarah. Ia sangat tertarik dengan jenderal federalis abad ke-19 Ezequiel Zamora. Kakek buyutnya pernah berdinas bersama Zamora. Pada pertengahan 1960-an, Hugo, abang, dan neneknya pindah ke kota Barinas supaya keduanya bisa bersekolah di SMA satu-satunya di negara bagian pedesaan ini, SMA Daniel O'Leary Pada usia 17 tahun, Chávez masuk Akademi Ilmu Militer Venezuela di Caracas. Di Akademi, ia menjagi anggota kelas pertama yang mengikuti kurikulum baru bernama Andrés Bello Plan. Kurikulum ini dicetuskan oleh sekelompok perwira militer progresif dan nasionalis yang percaya militer butuh perubahan. Saat menetap di Caracas, ia malah melihat lebih banyak kemiskinan endemik yang dihadapi kaum pekerja Venezuela, mirip dengan kemiskinan yang dulu ia rasakan. Ia bersikeras bahwa pengalaman ini menjadikannya lebih semangat mengejar keadilan sosial. Ia juga mulai terlibat dalam serangkaian aktivitas lokal di luar sekolah militer, bermain bisbol dan sofbol bersama tim Criollitos de Venezuela, melaju bersama mereka ke Kejuaraan Bisbol Nasional Venezuela. Hobi lain yang ia jalankan pada masa itu adalah menulis puisi, cerita, dan drama teater, melukis, dan mempelajari kehidupan dan pemikiran politik revolusioner Amerika Selatan abad ke-19 Simón Bolívar. Ia juga tertarik dengan revolusioner Marxis Che Guevara (1928–67) setelah membaca memoarnya, The Diary of Che Guevara, padahal buku biografi yang ia baca sangat beragam. Tahun 1974, ia terpilih mewakili Venezuela dalam peringatan 150 tahun Pertempuran Ayacucho di Peru, yaitu konflik ketika letnan Simon Bolívar, Antonio José de Sucre, mengalahkan pasukan royalis pada Perang Kemerdekaan Peru. Di Peru, Chávez mendengarkan pidato presiden yang berpaham kiri, Jenderal Juan Velasco Alvarado (1910–1977). Ia terinspirasi oleh ide-ide Velasco bahwa militer harus memihak pada kaum pekerja jika kaum penguasa dianggap korup. Chávez membaca habis buku yang ditulis Velasco, bahkan nyaris hapal beberapa pidatonya. Karena berteman dengan putra Presiden Panama Omar Torrijos (1929–1981), jenderal militer berpaham kiri lainnya, Chávez berkunjung ke Panama. Di sana ia bertemu Torrijos dan terpesona dengan program reformasi lahan yang dirancang agar menguntungkan para petani. Setelah begitu terpengaruh oleh Torrijos dan Velasco, ia melihat potensi di kalangan jenderal militer untuk mengambil alih pemerintahan ketika otoritas sipil dianggap hanya memenuhi kepentingan kaum elit dan kaya. Berbeda dengan presiden militer seperti Torrijos dan Velasco, Chávez justru sangat kritis terhadap Augusto Pinochet, jenderal sayap kanan yang baru saja merebut kekuasaan di Chili dengan bantuan CIA Amerika Serikat. Chávez kemudian mengatakan, "Bersama Torrijos, aku menjadi seorang Torrijis. Bersama Velasco, aku menjadi seorang Velasquis. Dan bersama Pinochet, aku menjadi seorang anti-Pinochetis." Pada tahun 1975, Chávez lulus dari akademi militer dan menjadi satu dari delapan lulusan terbaik di angkatannya yang berjumlah 75 orang. Pasca kelulusannya, Chávez dipekerjakan sebagai petugas komunikasi di satuan kontrapemberontak di Barinas, walaupun pemberontak Marxis-Leninis yang menjadi target pasukan sudah diberantas dari negara bagian itu, sehingga mereka punya banyak waktu luang. Chávez sendiri aktif di tim bisbol setempat, menulis kolom di surat kabar lokal, mengadakan permainan bingo, dan menjadi juri kontes kecantikan. Pada satu saat, di dalam sebuah mobil penuh lubang peluru, ia menemukan tumpukan literatur Marxis yang kelihatannya dimiliki pihak pemberontak. Ia membaca buku-buku tersebut yang dikarang oleh para teoriwan seperti Karl Marx, Vladimir Lenin, dan Mao Zedong. Buku favoritnya adalah The Times of Ezequiel Zamora yang bercerita tentang jenderal federalis abad ke-19 yang merupakan tokoh favorit Chávez sejak kecil. Buku-buku ini semakin meyakinkan Chávez tentang perlunya mendirikan pemerintahan sayap kiri di Venezuela. Ia menyatakan resmi beralih ke paham kiri pada usia 21 atau 22 tahun

Tahun 1977, pasukan Chávez ditransfer ke Anzoátegui dan terlibat dalam pertempuran melawan Partai Bendera Merah, sebuah grup pemberontak Marxis-Hoxhais. Setelah ikut campur untuk mencegah pemukulan seorang terduga pemberontak oleh tentara lain, Chávez mulai meragukan Angkatan Darat dan metode penyiksaan mereka. Pada saat yang sama, ia semakin kritis terhadap korupsi di tubuh AD dan pemerintahan sipil. Ia percaya meski kekayaan datang dari cadangan minyak nasional, penduduk Venezuela yang miskin tidak kebagian. Ia merasa hal ini tidak demokratis. Demi mewujudkan tujuannya, ia mulai bersimpati dengan Partai Bendera Merah dan misi mereka, bukan metode kekerasannya.

Pada tahun 1977, ia mendirikan gerakan revolusi di dalam tubuh militer dengan harapan mampu mendirikan pemerintahan sayap kiri di Venezuela. Pasukan Pembebasan Rakyat Venezuela (Ejército de Liberación del Pueblo de Venezuela, atau ELPV) adalah sel rahasia di dalam militer yang terdiri dari Chávez sendiri dan sejumlah rekan tentaranya. Meski mereka tahu bahwa mereka menginginkan jalan tengah antara kebijakan sayap kanan pemerintah dan posisi sayap kiri Bendera Merah, mereka tidak punya rencana matang untuk beraksi pada saat itu. Sambil berharap mendapatkan aliansi dengan beberapa kelompok sipil kiri di Venezuela, Chávez bertemu sejumlah tokoh Marxis seperti Alfredo Maneiro (pendiri Radical Cause) dan Douglas Bravo, walaupun ada perbedaan politik di antara mereka. Pada masa itu, Chávez menikahi seorang wanita kelas pekerja bernama Nancy Colmenares. Mereka dikaruniai tiga anak: Rosa Virginia (l. September 1978), Maria Gabriela (l. Maret 1980) dan Hugo Rafael (l. Oktober 1983).

Lima tahun setelah pembentukan ELPV, Chávez membentuk sel rahasia baru di tubuh militer bernama Pasukan Revolusi Bolivarian-200 (EBR-200), yang kemudian berganti nama menjadi Gerakan Revolusi Bolivarian-200 (MBR-200). Terinspirasi dari tiga orang Venezuela yang sangat digemari Chávez, Ezequiel Zamora (1817–1860), Simón Bolívar (1783–1830), dan Simón Rodríguez (1769–1854), ketiga tokoh ini dijuluki "tiga akar pohon" MBR-200. Sambil menjelaskan dasar organisasinya, Chávez mengatakan bahwa "gerakan Bolivarian ini tidak mengusung tujuan politik... Tujuannya bersifat internal. Segala upayanya diarahkan untuk mempelajari sejarah militer Venezuela sebagai sumber doktrin militer kami sendiri yang sampai saat itu belum ada." Akan tetapi, ia selalu berharap Gerakan Bolivarian mendominasi dunia politik. Tentang pemikiran politiknya pada masa itu, Chávez menyatakan bahwa "Pohon ini [Bolívar, Zamora, dan Rodríguez] harus menjadi lingkaran. Pohon ini harus menerima semua jenis pemikiran, dari kanan, dari kiri, dari bekas ideologi sistem kapitalis dan komunis lama." Analis politik asal Irlandia Barry Cannon mengatakan bahwa ideologi awal Bolivarian jelas-jelas kapitalis, tetapi "doktrin tersebut masih dibangun, sebuah gabungan pikiran dan ideologi yang heterogen dari pemikiran universal, kapitalisme, Marxisme, tetapi menolak model neoliberal yang saat ini sedang diterapkan di Amerika Latin dan menolak model sosialis dan komunis Blok Soviet lama."

Pada tahun 1981, Chávez yang sudah menjadi kapten ditugaskan mengajar di akademi militer tempat ia belajar dulu. Ia langsung mendoktrin murid-muridnya dengan pemikiran "Bolivarian" dan merekrut beberapa orang yang bisa dijadikan anggota MBR-200, serta menyelenggarakan acara olahraga dan teater untuk para murid. Ia berhasil merekrut 30 dari 133 kadet. Tahun 1984, ia bertemu seorang janda Venezuela keturunan Jerman bernama Herma Marksman yang berprofesi sebagai guru sejarah. Karena banyak kesamaan di antara mereka, Marksman terlibat dalam gerakan Chávez dan keduanya saling jatuh cinta. Chávez sempat terlibat dalam perselingkuhan selama beberapa tahun. Figur lain yang terlibat dengan gerakan ini adalah Francisco Arias Cárdenas, seorang tentara yang tertarik dengan teologi pembebasan. Posisi Cárdenas dalam kelompok ini naik dengan cepat, meski memiliki konflik ideologi dengan Chávez. Chávez yakin mereka harus melancarkan aksi militer langsung untuk menggulingkan pemerintah, tetapi Cárdenas menganggap tindakan ini terburu-buru.

Sayangnya, sejumlah perwira militer senior curiga terhadap Chávez setelah mendengar rumor seputar MBR-200. Karena ia tidak bisa diberhentikan secara hormat tanpa bukti, mereka memindahtugaskannya supaya tidak bisa merekrut orang baru dari akademi. Ia diminta mengambil alih komando barak terpencil di Elorza, Apure. Di sana ia terlibat dalam penyelenggaraan acara sosial dan melakukan kontak dengan suku pribumi yang belum terjamah, Cuiva dan Yaruro. Walaupun mereka menjadi tidak percaya karena pasukan Venezuela sebelumnya menangani mereka dengan cara yang salah, Chávez mendapatkan kepercayaan mereka dengan bergabung dalam ekspedisi antropologi. Pengalamannya dengan mereka kelak menjadi alasan Chávez untuk memperkenalkan hukum yang melindungi hak-hak suku pribumi. Saat liburan, ia menapak tilas rute yang ditelusuri kakek buyutnya, revolusioner Pedro Pérez Delgado (dikenal sebagai Maisanta), untuk mempelajari sejarah keluarganya. Dalam perjalanan tersebut, ia bertemu wanita yang memberitahu Chávez bagaimana Maisanta menjadi pahlawan lokal setelah menyelamatkan seorang gadis yang diculik. Tahun 1988, setelah naik pangkat menjadi mayor, Jenderal Rodríguez Ochoa mulai menyukai Chávez dan mempekerjakannya sebagai asisten di kantornya di Caracas

Saat Chávez dan anggota senior MBR-200 dipenjara, hubungannya dengan Herma Marksman berakhir bulan Juli 1993. Marksman kemudain menjadi penentang Chávez. Pada tahun 1994, Rafael Caldera (1916–2009) dari Partai Konvergensi Nasional yang sentris terpilih sebagai presiden. Sesaat setelah menduduki jabatan, ia membebaskan Chávez dan anggota MBR-200 lainnya sebagai wujud janjinya sebelum pemilu. Caldera melarang mereka kembali ke militer demi mencegah kudeta selanjutnya. Pasca pembebasannya, Chávez mengadakan tur 100 hari ke seluruh penjuru Venezuela untuk mempromosikan revolusi sosial Bolivariannya. Ia saat itu hidup dari uang pensiun militernya yang sedikit ditambah sumbangan dari para pendukungnya. Ia terus menafkahi ketiga anak dan ibunya, Nanci Colmenares, meski sudah bercerai. Dalam turnya, ia bertemu Marisabel Rodríguez yang kelak melahirkan seorang putri sesaat sebelum dinikahi Chávez tahun 1997.

Selama tur keliling Amerika Latin untuk menggalang dukungan asing atas gerakan Bolivariannya, ia mengunjungi Argentina, Uruguay, Chili, Lolombia, dan terakhir Kuba. Di Kuba, pemimpin komunis Fidel Castro (1926–) menyusun jadwal untuk bertemu Chávez. Setelah beberapa hari menetap di Kuba, Chávez dan Castro menjadi sahabat. Chávez pun menganggap Castro sebagai sosok ayahnya. Sepulangnya ke Venezuela, Chávez gagal merebut perhatian media arus utama atas tujuan-tujuan politiknya. Sebaliknya, ia mendapatkan simpati dari surat kabar dan media lokal yang kecil. Sebagai bagian dari ketidaksukaannya terhadap pihak penguasa, Chávez semakin kritis terhadap Presiden Caldera yang kebijakan ekonomi neoliberalnya mengakibatkan inflasi. Caldera juga menahan jaminan konstitusional dan menahan sejumlah pendukung Chávez. Menurut PBB, pada tahun 1997, pendapatan per kapita warga Venezuela turun menjadi US$2.858 dari US$5.192 tahun 1990, sementara tingkat kemiskinan naik 17,65% sejak 1980. Tingkat pembunuhan dan kejahatan lain berlipat ganda sejak 1986, khususnya di Caracas. Standar hidup juga ikut jatuh. Ketidakpuasan yang meluas terhadap sistem demokrasi perwakilan di Venezuela menciptakan celah antara pihak penguasa dan yang dikuasai yang mengidam-idamkan pemimpin populis.

Gerakan Bolivarian kemudian berbeda pendapat apakah mereka harus memimpin dalam pemilu atau terus percaya bahwa tindakan militer adalah satu-satunya cara membawa perubahan politik. Chávez adalah pendukung pendapat yang terakhir. Ia yakin oligarki tidak akan mengizinkannya memenangkan pemilu, sementara Francisco Arias Cárdenas bersikukuh agar mereka ikut serta dalam proses demokrasi perwakilan. Cárdenas sendiri membuktikan kata-katanya dengan memenangkan pemilu gubernur negara bagian Zulia pada Desember 1995 setelah bergabung dengan partai sosialis Tujuan Radikal. Setelah berubah pikiran, Chávez dan para pendukungnya di gerakan Bolivarian memutuskan untuk mendirikan partai politiknya sendiri, Gerakan Republik Kelima (MVR – Movimiento Quinta República) pada Juli 1997 dengan tujuan mendukung pencalonan Chávez pada pemilihan umum presiden Venezuela 1998

Majalah Time memasukkan Hugo Chávez dalam daftar 100 tokoh paling berpengaruh di dunia tahun 2005 dan 2006. Dalam daftar "Pahlawan Sejarah" tahun 2006 yang disusun majalah New Statesman, ia menempati peringkat ke-11. Tahun 2010, majalah tersebut memasukkan Chávez dalam daftar tahunan 50 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia. Penulis biografinya, Marcano dan Tyszka, percaya bahwa dalam hitungan tahun masa pemerintahannya, ia "sudah mendapatkan tempat dalam sejarah sebagai presiden yang paling dicintai dan diagungkan rakyat Venezuela, presiden yang menginspirasi semangat terdalam dan perubahan terbesar secara bersamaan."

Seumur hidupnya, Chávez mendapatkan sejumlah gelar kehormatan:

1. Doktor Kehormatan dalam Ilmu Politik – Diberikan oleh Universitas Kyung Hee (Korea Selatan) pada 16 Oktober 1999.

2. Doktor Kehormatan dalam Yurisprudensi – Diberikan oleh Universidad Autónoma de Santo Domingo (Republik Dominika) pada 9 Maret 2001.

3. Doktor Kehormatan – Diberikan oleh Universitas Brasília (Brasil) pada 3 April 2001.

4. Doktor Kehormatan – Diberikan oleh Akademi Diplomatik Kementerian Luar Negeri (Federasi Rusia) pada 15 Mei 2001.

5. Doktor Kehormatan dalam Ilmu Ekonomi – Diberikan oleh Fakultas Ekonomi dan Perdagangan Universitas Beijing (Republik Rakyat Cina) pada 24 Mei 2001.

6. Hugo Chávez mendapatkan penghargaan purnawirawan Order of the Republic of Serbia

Pada tanggal 5 Maret 2013, Wakil Presiden Nicolás Maduro mengumumkan di televisi nasional bahwa Chávez telah meninggal dunia di Caracas pada pukul 16:25 waktu setempat. Wapres menyatakan Chávez meninggal "setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya selama hampir dua tahun." Wapres Maduro dan para pendukung Chávez mencurigai ada permainan di balik penyakit yang diderita Chávez dan kematiannya. Pemakaman Chávez rencananya akan dilakukan di Caracas. Maduro berspekulasi Chávez telah diracun. Pada pidato itu pula, Maduro memaksa pulang atase kedubes Amerika Serikat karena dianggap melakukan "plot terhadap pemerintah" Venezuela. Chávez sendiri mengklaim dirinya sebagai "korban upaya pembunuhan oleh A.S." Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyebut tuduhan tersebut "mengada-ada".

Sesuai konstitusi Venezuela, pemilu presiden harus diadakan dalam kurun 30 hari pasca kematian Chávez. Menteri Luar Negeri Venezuela menyatakan bahwa Wapres Nicolas Maduro akan menjabat sebagai presiden sementara.

editor : Gian Tue Mali

Copy Aja Status FB disini, Daripada Bingung Mikir Status FB

Written By Unknown on March 7, 2013 | 1:45 PM

1. Banyak orang miskin yang ngaku kaya di FB

2. Seandainya gw punya Doraemon, mungkin bakalan banyak cewe yang mau sama gue..

3. Plat idaman gue ni.. BH 151 TT

4. Ga semua Orang Bisa BACA dan COMENT status gw!!!

5. Buat gue , KELUARGA IDEAL itu adalah keluarga yg terdiri dari 3 orang ISTRI dan 1 Orang ANAK.

6. Untuk sementara ini bagi teman2 yang ingin menulis di dinding FB ane, ane mohon maaf karna dinnding FB ane sedang di cat. Kalw pesannya memang urgent ane saranin PM atau Poke ane aja..

7. ǝnb ןןɐʍ ɐɯɐs ɐʎ ɥǝuɐ buɐʎ ɐpɐ ɐʎubuɐɯǝɯ '''ǝnb ןןɐʍ ɐɔɐq bunbuıq ɐpɐd buɐɹo ɐnɯǝs oʞ ıuı ıɹɐɥ

8. bibirMU tipis kaya pinggiran KORENG ...

9. CLBK = Cebok Lama Bersih Kaga

10. Yang Cantik dan masih single monggo Comentnya, yang Maho,, LIKE aja..

11. Pusing aku sama kamu,, Pacaran kok banyakan SENSOR, begini ga boleh, begitu ga boleh, pegang ini haram, pegang itu haram,,, cape tau aku nahan lendir tiap sama kamu..

12. mau up Date sttus aja mikirnya 1/2 jam, ,,,parah.. parah...

13. Jadi pengen jalan2 ke BROTHER LAND (tanah abang)..

14. kejahatan dapat terjadi bukan karena ada kesempatan dan niat pelaku saja, tetapi lebih utama karena ada OBJEKNYA.

15. kalu thread di Kaskus biar rame dan dapet cendol syarat cuma 1 buat thread yang BAGUS n BERBOBOT. tapi kalo Status di Face Book pengen banyak yang ngelike dan yang koment syaratnya harus cantik n ganteng gan... ini udah disurvei.

16. Lebih baik dari pada NILAI MERAH

17. Up Date status itu ga mesti sering-sering,, cukup 2 x aja per 10 menit...

18. Semakin banyak membaca semakin banyak lupa, soo mending ga usah membaca biar ga lupa...
xx. kalo gue nanti punya anak, bakal gue namain MEGATHRON BIN SANUSI, jgn di contek ya,, nama bagus tuh

20. Eggghhh susah bngt sih dapet gambar yang bagus buat foto profile, kameranya yang jelek atau latarnya sih yang jelek"

21. Maaf gan ane masih newbie, ini up date-an pertama ane gan, kalo agan2 berkenan boleh donk coment or like nya, tapi kalo ga berkenan, please jangan un like ya gan... "

22. Ga sopan banget sih, gue kan udah ambil air wudhu.. kenapa di poke sih,, kan bisa PM.. nyebelin banget si loe"

23. " kalo Up Date status itu ga usah panjang2,yang singkat, padat, jelas dan berisi , kaya status gue ini ni.. singkat kan "

24. makin lama FB makin kacau, banyak yang salah kamar. coba aja loe cek di HOME, ada yang jualan, ada yang curhat, ga beres bro"

25. MENYONTEK adalah bagian dari usaha..

26. Jangan Bilang anak GAUL, kalo belum pernah di GAULIN

27. Semua orang ingin masuk surga, tapi tak satupun orang yang menginginkan mati

28. Cantik dan tdk cantik itu RASANYA SAMA, cuma semangatnya saja YANG BERBEDA

29. Qt TDK akan menemukan huruf R dalam pelafalan angka 1(satu)
sampai 99 (sembilan puluh sembilan)

30. Ayo Gan bantu ngeLIKE and coment satus ane, biar rame,,,, tapi jangan nejunk ya...

31. Buat loe2 yang masih jomblo sampe sekarang, coba ikutin 3 langkah jitu dari gue 1. Dah BERUSAHA? 2. dah BERDOA 3.Kalo masih jomblo juga ya terpaksa BERCERMIN

32. Ga asik banget sih yang.. masa qt putusan Cuma gara2 diantara qt ada yang kentut, trus ga ada yang mau ngaku, jelas2 kamu yang kentut… kamu egois banget si…

33. Beginilah nasib karyawan yg gajinya 5 koma (Tanggal 5 udah koma alis megap-megap)

34. Awal bulan ko jalanan + Playover kok sepi banget ya ga ada yg pada pacaran,, tapi kalo akhir bulan,, GA USAH DITANYA… NGAPRAK TUH YANG PACARAN

35. Jasa pe ngLIKE-an, buat loe2 yang sttusnya sepi ga ada yang komen atau ga ada yg ngelike, PM gue aja, gue langsung ke TKP

36. Minta supportna donk temen2, gue lagi PENDEK KATE ni sama temen ce sma gue

37. Ga kerasa y ague udah 1 tahun jomblo..

38. Pleas donk mam.. masa malem2 gini minta es klapa sawit, . ini sih ngidamnya udah klewatan

39. Fakta unik : Usia kamu tahun ini + 2 digit tahun kelahiran kamu pasti jumlahnya = 111

40. Gue bingung sama anak2 sekarang, masih umur 16 thun sttus hubungannya dah pada nikah, ga dimarahin bokap nyokapnya apa ya tuh anak..

41. BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA (kalo ada)

42. 4 Fungsi busway : 1. memecah kemacetan 2. Menambah kemacetan 3. Sumber penghasilan 4. Untuk uji nyali

43. Kalo loe bener2 anak rider, coba salip tuh mobil busway dari kanan di jalurnya,, bias gue lemparin cendol…

44. Cuma tukang BECAK dan tukang DELMAN yang tidak memaksakan dalam menarik penumpang

45. Anak Doelu : Shalat 5 x sehari.
Anak sekarang : shalat 5 hari sekali (itupun kalo inget)

46. Request adzan magrib donk, perut gue dah keroncongan ni..

47. Ternyata TELAPAK TANGAN QT (5 jari) membentuk lapaz ALLAH (kurang dari 5 jari ga berlaku)

48. Gue sedih banget liat mantan gue nikah, bukan karma dia udah jadi milik orang lain. Gue Cuma kasian sama suaminya..coz waktu dulu gw pacaran sama dia, dia udah abis luar dalem sama gue,,

49. [Sholat itu boleh di LANGGAR.. sekali lagi gue tegasin buat loe2 semua… SHOLAT itu boleh di LANGGAR

50. NILAI MERAH itu BIASA, tapi kalau BIASA NILAI MERAH.. itu baru LUAR BIASA (GOBLOKKKKK)

51. [Bukannya gue ga mau Up Date status, habisnya setiap UD Status slalu dikomen "kenapa sih loe kalo UDstatus bawa embel2 kaskus ke FB?" Sekali lagi maafin gue ya Gan, sttus ini gue buat Cuma buat klarifikasi aja,, kalo berkenan boleh donk LIKE nya

52. Biasanya POSTINGAN gw di KASKUS selalu jadi HT. Semoga aja Up Date-an pertama gue di FB jadi HT juga, Bantu like and rate nya ya temen2..

53. TTMan itu memang mengasikan,ga usah dapet M nya deh, dapet 2 HURUF AWALNYA aja ane dah seneng bukan main..., Ajip tenan…

54. Sayang biarlah kejadian tadi malam menjadi kenangan terindah dalam hidup kita, semoga kita bias mengulangi kejadian itu dimalam2 berikutnya. Cukuplah kejadian ini kamu dan aku saja yang tahu…
55. Definisi kebodohan adalah minum ES ..ditiupin.

56. Jumlah hari jumat dalam 1 tahun adalah 52 hari… (95 % orang yang membaca wall ini langsung mencoba menghitungnya)

57. PENTING!!! Buat teman2 yang belum tahu, untuk Up Date status, kapasitas maksimal tulisan di Wall FB hanya bsa di tulis dengan 248 karakter.

58. Orang bodoh akan mencoba memposting dan membuktikan Status Diatas.

59. SPEEDOL koplak,, tower lue pake layangan ya,,? .ada angin sedikit aja, dah lemot ni.. cape deh pake loe..

61. CINTAKU BERTEPUK SEBELAH PANTAT..

62. Berbohong adalah kebenaran yang tertunda

63. Anak Jaman Dahulu. : Bangun jam 2 buat tahajudan, Anak jaman sekarang : bangun jam 2 buat Up Date Status

64. Temen-temen ini pin BB q yang baru, save ya 228B2592

65. Iri banget gue sama temen2 gue yang lahir di tanggal dan bulan yang normal (nasib anak yg lahir tgl 29 februari/Tahun Kabisat)

66. Cinta dan kesetiaan ku berbanding lurus dengan tebal tipisnya dompet mu.

67. Tube8 emang web yang paling membantu gue dalam mencari bahan untuk tugas akhir

68. kalo sampe loe ga comen, 1 kata dari gue buat loe, TERLALU

79. BINGUNG kan LOE mau KOMEN apa di Wall GUE!!

70. Selangkah demi selangkah, lama2 jauh juga

71. Sebenci-bencinya qt dengan orang yang mengimami qt shalat, kalu di mengucap WALABDHOLLIN,, qt wajib bilang AMIN…

72. 7 x 7 = 49, setuju tidak setuju ya hasilnya memang 49

73. Play Over mana lagi nih yang mau gue kunjungin buat malemmingguan..

74. YASSIN TABAROK, hari ini diriasin, besok udah gendong orok

75. Ga pagi, Ga siang, Ga sore, dimana2 macet meratap… Jakarta oh Jakarta..

76. Jiah,, ni ujan beraninya keroyokan, kalo berani turunnya satu-satu donk..

77. Akhirna usia ane genap 17 thn 48 bulan 50 minggu 13 hari 23 jam 60 menit..

78. Muka kaya ayam aja sotoynya setengah mati.. so kecakepan lo,,

79. CLBK : Cuma Liat Beli Kaga

80. Masuk Tepat waktu, Pulang Telat Waktu

81. Pacar yang pengertian adalah pacar yang mengerti betul, apa yang pasangannya inginkan jika sedang berduaan ditempat sepi.

82. UNIKO (Usaha Nipu Kolot)

83. Beibh, besok2 kalw nonton kebioskop jangan pakai ROK ya, Q ga pernah bias FOKUS sama filmnya kalo udah didalem,,

84. Kami Melayani Dengan DAMAI… 25.000 (mr. Tilank)

85. suroki = suka rogoh m*ki...

86. Antara Ngaskus dan main Foker, dilema berat....

87. Oh RSJ di jakrta udah ga muat nampung pasien ? aku lgi stress . siapa yg mau nampung aku ,,?? mau d taro di mana aja aku iklash ...mohn pgertiannya (^_^)

88. 5 langkah dari rumah, status ane single"

89. ga semua orang bisa melafalkan PEUGEOT dengan benar,, termasuk anda!!

90. Hanya menerima LIKE..

91. Dilarang keras mengomentari status Ini..

92. Diprediksikan , tahun 2014 jumlah orang miskin dan para koruptor di negara kita sudah mulai turun (turun-temurun)

93. Yang pernah Nikmatin PUTING COKLAT, monggo koment

94. PIPI sama PANTAT kok bisa sama kaya gt ya, sampe susah bedaiinya ...

95. Yang punya TOBUL monggo koment (TOKET BULET)

96. Buat yang mukanya STANDAR harusnya kalian banyak2 bersyukur, karena jika tidak ada kalian tidak akan ada org yang dibilang CANTIK atau GANTENG,,, karena muka kalian digunakan untuk menyetandarkan muka2 mereka..

97. Beginilah kalo jadi orang jelek, tiap OL di FB statusnya pasti sepi...

98. Cewe cantik dan Cewe jelek itu ternyata sama2 bikin pusing

99. Cewe pendiam dan cewe banyak omong itu sama2 biki kita jadi gemes...

100. PANTATMU MENGALIHKAN PANDANGANKU..

101. Budayaka komen dari hati ke hati..

102. Kaya sombong itu biasa, tapi kalo MISKIN SOMBONG,,, ITU BARU LUAR BIASA

103. Antara ALOW dan IGNORE

104. Mau di accepted tapi orangna jelek, ga di accepted takut dibilang sombong,, (bgini derita orang ganteng)

105. 1 tAHUN qt TIDAK MAKAN, ternyata QT masih TETAP BISA BERTAHAN HIDUP
(Dengan syarat ngemil tetap jalan)

106. JANGAN REPOST TUGAS GUA DONG

107. Buat temen2 yang berdomisili di daerah Jakarta dan sekitarnya, ane cuma maw kasih informasi. Ternyata perbedaan waktu antara jakarta dgn bandung adlh 4 jam. Kalaw tidak percaya, temen2 bisa cek ke TKP menggunakan motor, ane jamin pasti 3 - 4 jam .

108. Cendol Dong MAS..

109. Hari ini istri dan anak gw harus makan.........!

110. nyopet hari ini harus lebih baik dari pada hri kemaren

111. cewek hitam manis,hilang manisnya tinggallah pekatnya

112. lebih baik bahagia namun kaya daripada penuh kesedihan namun miskin

113. Saya jelek dan saya bangga

114. lelaki pemberani adalah lelaki yg bangun siang,, karena saat membuka mata langsung menantang matahari

115. PEKERJAAN SEBERAT APAPUN AKAN TERASA RINGAN APABILA TIDAK DIKERJAKAN..

116. Jadilah diri anda anda sendiri, kalau anda jelek syukurilah
kejelekan anda"

117. "Cinta tidak memandang cakep atau jelek, gak percaya? Tanyakan hal
ini sama orang jelek"

118. Semakin banyak belajar, semakin banyak yang kita tahu, Semakin banyak yang kita tahu, semakin banyak yang kita lupa, Semakin banyak yang kita lupa, semakin sedikit yang kita tahu. Jadi kenapa kita sibuk belajar ?

119. saya ucapkan : selamat pagi semua, assalamualaikum bagi yang beragama muslim, salam sejahtera bagi yang beragama lain.., bagi yang tidak punya agama, saya ucapkan kembalilah ke jalan yang benar

120. BERSATU DI PANGKALAN BERSAING DI JALANAN

121. UCOK = Uang Cukup Ongkos Kurang

122. Disana gunung disini gunung ditengah-tengahnya bunga melati.. kamu bingung sayapun bingung kenapa ditengahnya ada bunga melati

123. "Buanglah pacarmu pada tempatnya!"
indikasi: pacran dpt menyebabkan kehgmilan, gangguan keimanan, gangguan keuangan & pikiran.
TTD: (Dinas Kebersihan)

124. Hidup ini kadang di atas dan kadang di bawah. kadang ayam nginjak tai kita, kadang kita nginjak tai ayam..

125. punya pacar boros uang,gak punya pacar boros sabun

126. Kalo cewe jelek yg UD Status, walau sttusnya bermutu ..pasti yg komen sepi, tapi kalo cewe cantik, walau statusnya alay dn ga bermutu, pasti rame yang komen,,,

19. please deh, kalo mau coment atu ngelike sttus w ANTRE donk,, jangan berebut gtu, kasian dibawah ane ni.. statusnya sepi banget ga ada yang ngelike atau coment"

127. kaga lucu!!! titit!.. eh salah.. titit.. eh salah lagi... TITIK!!!

128. ente mau dikata apa? mau dikata pelawak? apa mau dikata katain? huaakakakak

129. Hanya orang yang kurang kerjaan yang up date status tiap detik,

130. Jarang2 muka kaya gue gini bisa masuk FB...

131. Buat temen gue yang RAPORTna udah diBATA sama pihak sekolah, yang sabar ya,, masih ada kesempatan 6 bulan lagi buat minta cendol sama kepsek,,

132. SEMUA COWOK suka bangget sama cewe2 yang PINTER apa lagi cewe2 yang pinter dikibulin, di boongin dan pastinya diselingkuhin

133. Motto gue, " saya akan Selalu berkata tidak , tidak bisa, tidak akan tidak pernah, belum, belum bisa dan belum pernah"

134. Gue sadar bangget akan status kontropersial gue ini, gue tau loe bingung sama status gue ini. Semoga stelah gue rilis status gue ini, loe semua bakalan mikir dulu sebelum koment di wall gue,,

135. Mau pacarin pacar siapa lagi ya?

136. JELEK dan GANTENG itu relatif, tergantung dengan siapa qt membandingkan diri qt. kalo sama Leonardo dekafrio ya jelas gantengan dia, tapi kalo SAma LOE.. ia loe.!!! ya jelas gantengan gue..

137. KUKUBIMA = KUrang Kuat , Bini Marah

138. Kebanyak dari kita ingin mencari hal yang belum kita thu, tapi kalo dikasih tahu malah so tahu.. dasar anak sotoy..

139. Undangannya sih udah gue buat, tinggal nunggu nama calon yang dampingin gue aja yang belum ada..

140. Facebooker yang baik, selalu mengucapkan salam sebelum koment"

141. Kentut didepan umum itu sebenarnya boleh2 saja, yang tidak boleh itu kalo isinya juga ikutan keluar,,,

142. Budayakan salam sebelum koment

143. Ane dari dulu sampe sekarang ga pernah dan ga mau Up date status Fb pd hari kamis malem dan minggu malem, so kamis malem org2 pada pengajian dan sabtu malem pada jalan sama pacarnya, dan sudah bisa dipastikan status ane ga ada yg komen!!!

144. Ane baru tau alasan kenapa kalo mau makan harus cuci tangan. alasannya karena kalo cuci kaki , itu namanya mau tidur bukan mau makan,,

145. Knpa hari ini tiap aku ngmg or nulis status slalu pake kata "kenapa"??Mungkin tema hari ini "kenapa" kali ya..

146. Antara benar dan betul, 2 hal yg membuat gue dan loe semua bingung...

147. eksperikan makian ente sama ane disini gan!!

148. Buat temen2 yang lagi kesel dan ga punya tempat untuk teriak, boleh ko teriak di wall ane sekenceng2nya (kalo masih waras)..

149. BIOSKOP memang tempat yang paling cocok untuk melatih indra peraba..

150. CINTA = cuma ingin nyimak Thread agan..

151. Ajari aku tuk jadi pejantan Tanggung!!!

152. Met bubu ya sayang qu,, mimpi basah ya,,,

153. Mulai adalah lebih baik daripada mikir terus

154. Banyak orang bertanya, BISNIS apa yang paling BAGUS? jawabannya : Bisnis yang paling bagus adalah bisnis yang diBUKA bukan diTANYA terus

155. Sebaik-baiknya mencontek, adalah mencontek yang tidak diketahui,,,

156. jangan pernah melihat cwo dari jenis motor yang dia pakai, tapi lihatlah dulu STNk motor yang dia pakai

157. Gigi gingsul 1 aja manisnya ga kepalang, apalagi gingsul 7...158. praktek selingkuh itu dosa, tp gak praktek ane pengen selingkuh,, (dilema berat.... )159. bau kentut itu adalah bau yang bikin org penasaran... Buktinya!!kalo ad yg kentut pasti ad yg blg iya yah..kalo belom kecium pada nyariin sampe kecium hhahaa

160. Hemat Pangkal Kaya (soo.. Belanja Hemat dan Nonton Hemat lah sesering mungkin)

161. Kecepatan Esi* dan jasa antar TIK* itu cuma berbeda 5 menit saja.Kalau TIK* antar barang dgn jarak 90 km memakan waktu 8 jam, tapi kalo ESI* mengirim pesan dgn jarak 90 km memakan waktu 7.55 menit...

162. Apapun pekerjaannya yang penting niatnya,, karena kalau tidak diniatin,, sebagus apapun pekrjaannya,, TIDAK akan pernah bisa terealisasikan..

163. Resiko menjadi org ganteng dan orang jelek itu sama.. sama2 harus tahan mental!!

164. Kalau mau main kerumah, tolong kabarin aku dulu ya,, via sms or tlpn,, biaraku bisa siap2 kabur.
.
Gian Tue Mali

Memahami Konflik Kesultanan Sulu vs Malaysia

Sejumlah orang bersenjata yang mengaku sebagai tentara Kerajaan Sulu dari Filipina selatan memasuki daerah Lahad Datu di negara bagian Sabah, Malaysia. Setelah lebih dua pekan mereka dikepung pihak keamanan Malaysia, terjadi bentrok dan kontak senjata yang menewaskan dua polisi Malaysia dan 12 tentara Sulu. Ada apa sebenarnya?

Seperti laga dalam film di layar lebar, dengan penuh keberanian, sekitar 100-300 warga Filipina Selatan yang mengaku sebagai penerus Kesultanan Sulu datang di kawasan Lahad Datu, Sabah, 9 Februari lalu. Mereka mengklaim wilayah itu sebagai bagian dari Kesultanan Sulu, dengan membawa sejumlah dokumen dari 1800-an, sebelum kolonialisme Barat meruntuhkan kerajaan Muslim di Filipina Selatan itu.

Para penyusup, yang sebagian bersenjata itu, kemudian dikepung aparat keamanan Malaysia. Pemerintah Malaysia dan Filipina sudah mengimbau mereka untuk segera kembali ke tempat asal mereka, tetapi imbauan itu diabaikan.

Sebanyak 12 pengikut Sultan Sulu Jamalul Kiram III yang ikut bertempur melawan pasukan Malaysia dan tewas dalam bentrokan itu. Dua tentara Malaysia juga tewas. Orang-orang Kiram itu pergi ke Sabah tiga pekan lalu untuk mengklaim negara bagian Malaysia yang kaya minyak dan mineral itu.

Malaysia memperingatkan jika sisa-sisa pengikut Kiram tidak menyerah, mereka harus menghadapi konsekuensi yang tidak diinginkan. Orang-orang Sulu itu berbekal memori sejarah, warisan masa lalu dari kebesaran Islam di Sulu.

Tidak hanya belasan orang Sulu itu, sebab sejatinya sudah ratusan warga Filipina itu mengaku datang ke Sabah atas perintah Sultan Jamalul Kiram III. Kiram (74) mengaku sebagai penerus takhta Kesultanan Sulu yang dulu pernah menguasai kawasan selatan Filipina dan sebagian Pulau Kalimantan.

Kekuasaan kesultanan itu pudar sejak seabad silam, dan kini wilayah Sulu menjadi bagian dari negara Filipina dan Malaysia. Meski demikian, Pemerintah Malaysia masih terus membayar sejumlah uang kepada penerus kesultanan itu sebagai kelanjutan perjanjian sewa wilayah sejak era kolonial Inggris. Kolonialisme Barat telah meruntuhkan kebesaran Kesultanan Sulu yang Muslim. Pertumpahan arah pekan lalu itu adalah efek lanjutan dari kolonialisme di masa lalu.

Juru bicara Kiram, Abraham Idjirani, menegaskan, warga Sulu itu akan tetap bertahan di Sabah. Idjirani mengatakan, kematian para pengikut Sultan itu justru memperkuat tekad mereka untuk terus mempertahankan hak-hak orang Filipina atas Sabah.

Anak perempuan Kiram, Jacel Kiram, menambahkan, ini adalah persoalan kehormatan.

"Mereka tak akan kembali ke sini karena kehormatan lebih berharga daripada nyawa. Apalah artinya hidup tanpa kehormatan?" tegasnya.

Orang-orang Sulu itu bergerak dengan ingatan sejarah di kepala mereka, mesti langkah itu salah.

Presiden Filipina Benigno S Aquino III sudah mendesak pengikut Sultan Sulu yang bersembunyi di Lahad Datu, negara bagian Sabah, Malaysia, menyerah tanpa syarat guna mencegah jumlah korban lebih banyak.

Benigno membuat imbauan itu dalam pernyataan yang dikeluarkan, Sabtu (2/3), setelah ia bertemu dengan beberapa anggota kabinet dan pejabat keamanan di Istana Presiden Malacanang untuk kedua kali sejak bentrokan di Sabah meletus pada Jumat pagi.

"Jika Anda memiliki keluhan, jalan yang Anda tempuh adalah salah. Dan memang, satu-satunya hal yang benar untuk Anda lakukan adalah menyerah," kata Aquino dalam imbauannya.

“Bagi mereka yang memiliki pengaruh dan kapasitas untuk alasan dengan orang-orang di Lahad Datu, saya meminta Anda untuk menyampaikan pesan ini: menyerah sekarang, tanpa syarat," tambahnya. Namun seruan Aquino itu masih diabaikan dari pertimbangan orang-orang Sulu yang ''hidup'' dari sejarah masa lalu.

Akibat konflik itu, ratusan TKI Indonesia yang bekerja di perkebunan Sabah terkena dampaknya. Konsulat Jenderal Republik Indonesia bekerja sama dengan Felda dan Kepolisian Daerah Sabah mulai mengungsikan pekerja sejak 12 Februari lalu. Dengan demikian, saat terjadi kontak senjata kemarin, tak ada seorang pun warga negara kita yang menjadi korban.

Walaupun mereka tidak bekerja hingga menunggu kondisi aman, gaji mereka diupayakan dibayar penuh. Sejumlah 600 pekerja ladang sawit yang mayoritas berasal dari Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur tersebut bekerja di Felda Sahabat Blok 17, tempat terjadinya kontak senjata. Jumlah seluruh perkebunan ada 52 blok dan pekerja Indonesia ada 8.000 orang. Namun yang bekerja di blok 17, tempat konflik, sebanyak 600 orang, dan semua sudah diungsikan.

Kembali pada kasus orang-orang Muslim Sulu itu, ada baiknya mereka meminta bantuan Indonesia untuk menengahi konflik itu, agar pertumpahan darah bisa dicegah.

Mantan Wapres M Jusuf Kalla, adalah negarawan potensial untuk memediasi konflik-konflik di Asia Tenggara (misalnya, Aceh, Thailand Selatan dan Rohingya Burma) dan ia sangat tepat jika memediasi konflik regional yang melibatkan kaum muslim di perbatasan antara Filipina dan Malaysia itu.

Ini tragedi akibat kolonialisme Barat di Asia Tenggara, terutama Sulu dan Filipina Selatan yang membekaskan luka sangat dalam, dimana konflik-konflik lokal timbul tenggelam. Harus ada dialog dan solusi damai, agar kekerasan karena berebut wilayah itu tidak menjadi bara dalam sekam.

editor : Gian Tue Mali
 
Contact Us : Facebook | Twitter | Feeds
Copyright © 2011. Himappen Jabodetabek - All Rights Reserved
Great Created by Creating Website Modify by Agaz Santiago
Proudly powered by Blogger