Home » » Puisi dan Tafsiran Reflektif

Puisi dan Tafsiran Reflektif

Written By Puisi on March 1, 2013 | 11:35 PM

Syair  Mereka (Ayah Bundaku) Sakti

Mereka Lelah, mereka letih
Mereka  luka  dan perih, duka mereka pedih
Walaupun  tertatih, hati mereka  tak sedih
Wajah lusuh jadi tak berarti kala tanam kasih

Langkah mereka pasti, mereka tak berhenti,
Mereka bahkan tak takut mati,
mereka sungguh berarti
Walau maut datang hingga tujuh kali
Mereka sabar dan tabah hati

Mereka itu hangat api..
Mereka itu, ya  matahari..
Mereka tulus memberi,
Kasih sayang dan peduli mereka tak pernah mati

Ayah dan Bundaku sakti
Mereka sudah tak takut mati, apalagi sakit hati
Demi buah putih,  mereka tanam benih suci
Demi kasih putih , mereka jadikan cinta itu murni

Sungguh, Ayah Bundaku sakti..
Apa kataku bukan kibulan semata
Apa kukata bukan fiktif belaka
Sungguh, ini tulus dari hati

Terima kasih, kataku dari hati
Terima kasih Ayah Bundaku yang sakti
Tak bisa kubalas jasa, kini ataupun nanti
Taburan cinta yang sakti sungguh tak terganti


Menggoreskan Lirik Luka Diri

Ayah Bundaku Sakti
Mereka Sudah Tak Takut Mati Apalagi Sakit Hati
Demi Buah Putih Mereka Tanam Benih Suci
Demi Kasih putih Mereka Jadikan Cinta Itu Murni

Bait Puisi liris Rofinus Sela Wolo bertajuk Mereka Ayah Bundaku Sakti itu mencuatkan kekaguman Sela terhadap sosok ayah-bunda (orangtua). Apa yang mengagumkan? Sela coba menukik lebih jauh ke kedalaman eksistensi orangtua lewat lirik puisi.
Demi Buah Putih Mereka Tanam Benih Suci Demi Kasih putih Mereka Jadikan Cinta Itu Murni. Apa kaitan ayah-bunda dengan cinta murni? Sela tak sekedar bertutur, tetapi ia bergumul dengan pencarian makna (searching for the meaning) dari keseharian sosok biasa-biasa saja ayah-bunda itu.
Di mata Sela, sosok sepasang kekasih yang kemudian menjadi sami istri itu tak hanya bertugas melahirkan dan mengasuh anak-anak yang lahir dari rahim mereka. Tapi, mereka juga merajut cinta: Demi kasih putih, mereka jadikan cinta itu murni.  
Bagi Sela, ayah-bunda adalah para pelaku cinta nan tulus. Dan pengakuan Sela itu tulus : Apa ku kata bukan fiktif belaka, ini tulus dari hati.
Akan tetapi, selalu ada ketegangan antara sebuah pengakuan dan realitas. Ayah-bunda, dimata seorang anak, tetaplah yang lain atau “liyan”. Banyak ayah-bunda disabit-sabit, dipapar-popor hingga terkulai. Kekejaman itu datang dari sang anak yang dilahirkan dengan susah payah dan penuh suar diasuh.
Sejuta pemandangan tercetak dalam ingatan kolektif kita bagaimana “ketuban” ayah-bunda  dibalas dengan air tuba. Hubungan anak-orantua sering ambigu: kasih sayang yang dibarengi penolakan, dan bakan penindasan.
Mungkin cinta, seperti juga hati, tak selalu menjadi sumber kebaikan; tapi yang kita alami, hati juga bisa menjadi sumber iblis (devil).
Persoalan lain: ayah-bunda adalah agen masyarakat (agent of society) yang “memaksa nilai-nilai sosial” untuk digoreskan pada diri anak yang masih polos seperti kertas putih. Kertas itu kemudian dicoret-coret dengan “tinta sosial”. Lalu, sang anak menjadi makhluk sosial yang hidup dengan nilai dan “life style” masyarakat. Ketika kekuatan ekonomi, yang menentukan life style itu pada akhirnya menentukan karakter si anak, tanpa ia menghendakinya.
Tapi lingkungan berubah dan setiap kita pun terpecah. Ayah-bunda adalah sejoli yang tak selalu kita anggap setara secara sosial, juga kultural. Masyarakat tak terlalu hormat pada dua insan yang berani menyatukan diri membentuk “bahtera baru” dan melahirkan generasi baru itu.
Ayah-bunda, dalam masyarakat paternalistik, tak pernah diperlakukan jujur. Mereka dibedah hingga terbelah menjadi “atas dan bawah”, “kuat dan lemah”, “bermartabat dan “tanpa martabat,”, di bawah kategorisasi yang diciptakan untuk menampik keutuhan manusia.
Belum banyak masyarakat yang mengakui kesamaan dan kesederajatan “ayah-bunda”. Sosialisme, juga kapitalisme, tak ada bedanya dalam bersikap terhadap “orangtua”, pelahir manusia itu. Ayah-bunda sudah lama menderita akibat perlakuan diskriminatif seperti itu.
Sela Wolo tak menampik realitas dan persepsi negatif itu.
“Mereka sudah tak takut mati, apalagi sakit hati”. Mengapa mereka tak takut mati? Mengapa pula mereka tak takut sakit hati?
Ada yang bergetar dari refleksi Sela: ayah bunda unggul dalam berdamai dengan diri mereka. Damai dengan diri? Pada titik ini Sela bertutur tak datar. Dua orang-masing-masing dengan tipe kepribaadianya meminta untuk diikat dalam satu sakramen, diberkati, dan meleburkan diri dalam satu kesatuan sakramental.
Tak mudah peleburan diri seperti itu, karena “kekurangan diri” yang lain harus bisa diterima. Demikian mereka berdamai dengan apa yang menjadi kekurangan diri dan diri pasangan mereka.
 Berdamai
Berdamai dengan diri sendiri, inilah soal yang tak mudah dikerjakan. Secara teoritis, orang lebih mampu berdamai dengan orang lain, bukan dengan diri sendiri. Justru disinilah terjadi kesalahpahaman mendasar.
Bila Sigmund Freud, Bapak Psikoanalis mengatakan manusia sebagai makhluk yang terpecah, maka upaya berdamai dengan diri sendiri bisa dimulai dengan menelisik sisi dalam diri manusia.
Frederick SX menunjuk “sisi-sisi terluka manusia yang perlu diobati dan disembuhkan. Itulah realitas luka batin yang melumpuhkan hampir semua potensi seorang individu. Dalam masyarakat dengan budaya paternalistik yang amat kuat seperti masyarakat Indonesia, mungkin pengenalan sekaligus penemuan luka-luka itu amat relevan dan mendesak.
Entahkah realitas luka batin itu harus membuat kita bermurung durja sepanjang hari? Bahaya yang ditularkan oleh ajaran Freud adalah sisi deterministik yang tidak menghargai dimensi kebebasan dalam diri manusia.
“Pengolahan luka-luka batin, memang penting. Tapi luka batin tidak menemukan (determine) masa depan seorang manusia. Masih ada rahmat, juga posibilitas di luar dugaan kita”, kata Frederick SX.
Bila Protestantisme yang mengikuti ajaran Martin Luther melihat akibat dosa manusia telah totaliter corruptus, maka teologi katolik percaya bahwa dosa Adam hanya melukai diri manusia. Dengan demikian manusia masih memiliki kebebasan, dan Tuhan pun menjadi Bapa yang Mahakasih, bukan hakim pengetuk palu. 
Itulah mengapa Rofinus Sela Wolo masih melihat cinta pada ayah-bunda, dua sejoli yang sebelumnya diragukan dapat membangun bahtera baru kehidupan, bila kita hanya terjebak pada sikap-sikap memutlakan banyak hal. Sela pun menampik determinisme itu.

Rofinus Sela Wolo
Share this article :

Post a Comment

 
Contact Us : Facebook | Twitter | Feeds
Copyright © 2011. Himappen Jabodetabek - All Rights Reserved
Great Created by Creating Website Modify by Agaz Santiago
Proudly powered by Blogger