Home » » Refleksi Hari Wisuda

Refleksi Hari Wisuda

Written By Unknown on April 22, 2013 | 2:49 PM

Dalam pelantikan wisudawan/i yang baru lulusan Universitas Nasional pada 7 april 2013 yang lalu, merupakan momen yang sangat luar biasa bagi saudara kami Yohanes Berkhmans Bhokopajo yang karab disapa Erans. Menjadi sangat emosional ketika hari wisuda tiba dan dilaksanakan dalam pegelaran yang penuh kegemerlapan, gegap gempita, yang juga diselipi perasaan haru, semua itu setimpal karena menjadi seorang wisudawan bukanlah hal yang mudah.


Perjalanan pendidikan yang cukup panjang dan melelahkan, yang juga otomatis menguras daya serta materi, ditutup dengan pegelaran dies natalis yang megah. Tetes keringat, air mata, hingga darah orangtua dihadiahi dengan setumpuk ijazah strata 1, merupakan impian semua orang. Dalam dies natali Universitas Nasional tersebut, seorang elit pejabat politik nasional yang didaulat sebagai orator umum, memberikan banyak petuah-petuah bagi para wisudawan/i. secara garis besar semuanya berkaitan dengan apa yang harus dilakukan setelah hari wisuda berlalu. Sebuah petikan yang penulis tangkap merupakan sebuah bahasa kiasan yang dikatakan sang orator tentang semua itu, kiasan tersebut seperti ini “hari ini layar anda sudah terpasang, apakah anda siap untuk mengarungi lautan dengan perahu anda?”. Sebuah kiasan yang penuh makna.

Secara implisit kiasan tersebut dapat dimaknai sebagai sebuah pertanyaan yang mempertanyakan kesiapan para wisudawan/i untuk terjun dalam dunia kerja. Namun sebagai kaum intelektual, kiasan tersebut dapat dikritisi dengan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut seperti “apa ada angin yang mampu membawa perahu tersebut ketengah lautan?” atau “apa perahu tersebut sudah siap melaut? Apa perbekalannya cukup? Apa layarnya cukup kuat untuk menghadapi hentakan badai lautan?”.

Pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang susah dijawab jika kita melihat keadaan sosial masyarakat kita, juga keadaan dunia pendidikan di Indonesia. Sebagai seorang yang sudah wisuda, penulis menyadari betul betapa susahnya mendapatkan pekerjaan yang sesuai harapan jika tidak ada “angin” (orang dalam). Banyak faktor yang mempengaruhi jika ingin mendapatkan pekerjaan yang layak seperti Indeks Prestasi Kumulatif yang tinggi paling tidak sesuai standar 3.0, pengalaman bekerja, skill, namun semua itu tidak serta merta memuluskan langkah kita untuk mendapatkan pekerjaan, karena ada faktor lain yang harus ada yang sebenarnya merupakan cermin kemunduran sosial, yaitu harus ada orang yang memiliki pengaruh yang merekomendasikan kita. Pengaruh dalam artian memiliki jabatan yang bagus di dalam perusahaan atau kantor tersebut, atau di tempat lain, juga memiliki reputasi yang baik pula.

Jika dilihat dari sisi pendidikan di negara kita, yang bisa dikatakan minim dalam hal kualitas yang juga kemudian menghasilkan kualitas manusia yang kurang cukup jika dibandingkan dengan negara lain. Minimnya sarana prasarana pendidikan, minimnya kualitas dan kuantitas pendidik merupakan faktor-faktor penting yang kemudian menghambat “persiapan perbekalan bagi para pelaut”.

Secara sederhana kita bisa melihat dari cerminan para peserta didik saat ini yang sering melakukan aksi tawuran, demonstrasi anarkis atas dasar idealisme, melakukan kejahatan atau tindakan kriminal, semua itu hampir merata terjadi di seluruh Indonesia. Mahasiswa/i mengatasnamakan sebagai agent social of change kemudian mengenyampingkan tindakan-tindakan akademis yang bisa menunjukkan keidealismeannya. Apakah yang salah?

Kita yang harus menjawabnya, tulisan reflektif ini saya akhiri dengan sebuah sepenggal kalimat yaitu, “persiapkan dirimu sebelum hari akhir pendidikan itu tiba”.

Congratulation brother



Penulis : Gian Tue Mali

Share this article :

Post a Comment

 
Contact Us : Facebook | Twitter | Feeds
Copyright © 2011. Himappen Jabodetabek - All Rights Reserved
Great Created by Creating Website Modify by Agaz Santiago
Proudly powered by Blogger