Home » » Tak Selamanya Damai itu Indah

Tak Selamanya Damai itu Indah

Written By Puisi on March 13, 2013 | 7:40 PM

Damai itu indah. Apakah semua damai itu indah?
Sering tertangkap mata telanjang kita slogan “Damai itu Indah”. Kalimat agitasi yang persuasif  itu biasa terpampang di pinggiran jalan, di halaman perkantoran, dan media-media sosial.
Salam damai juga sering dilagukan oleh komunitas Reggae. Tak jarang pula kata damai  malang-melintang di kepala hingga mengganjal otak dan pikiran kita.
Umumnya damai dipahami sebagai suatu hal yang indah, menyenangkan dan sepenuhnya bernilai positif. Paradigma masyarakat kita memandang semua persoalan sosial dapat diselesaikan secara damai. Apapun bisa dilakukan, asalkan bisa berdamai. Sering pula muncul kata-kata “ damai ajalah”.
Perihal “damai ajalah” sungguh nyata dalam realita kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Sudah kesekian kalinya kasus suap terungkap ke publik. Ini berkaitan dengan paradigma mengenai “damai itu indah”.
Beberapa kasus suap misalnya suap terdakwa penipuan dan penggelapan uang, Edward M. Bunyamin kepada Jaksa Penuntut Sistoyo di Kejaksaan Negeri Cibinong, dengan uang sebesar 100 juta agar tuntutan mereka diringankan. Kasus lain seperti kasus suap wisma atlet dengan terdakwa Nazarudin.
Sungguh uang bisa menjadi alat perdamaian. Uang sering menjadi alat untuk berdamai. Uang mampu mengusahakan agar kedua belah pihak yang bertikai bisa berbaik kembali dan merundingkan agar mencapai persesuaian atau kesepakatan. 
Lalu bagaimana dengan “damai” yang menjadi solusi seorang pengendara sepeda motor setelah terjaring razia lalu-lintas?
Apakah mengingkari kesalahan dengan berdamai agar seolah-olah tidak bersalah merupakan tindakan terpuji? Ini menjadi pertanyaan reflektif!
Beberapa waktu yang lalu,  saya menyebrangi halte bus transjakarta di Cempaka Putih, Jakarta Timur. Bukan mencari berita, namun kebetulan saya sedang menuju Pulo Gadung. Menuruni tangga halte, saya berpapasan dengan beberapa pasang mata tengah fokus pada sesuatu.
Ada apa? Terlintas pertanyaan di benak saya ketika itu. Setelah berusaha untuk memastikan, akhirnya terjawab.  Sekitar tiga puluh pengendara sepeda motor terjaring razia polantas.
Kemudian, saya memastikan lebih dekat perihal razia lalu-lintas itu. Ternyata, para pengendara sepeda motor ditilang karena memasuki jalur cepat khusus kendaraan roda empat, dari arah Pasar Senen, Jakarta Pusat menuju Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Hampir sepuluh polantas dengan tegas dan santun melakukan pemeriksaan kepada setiap pengendara sepeda motor. Berawal dengan salam hormat, petugas lantas mulai menyampaikan alasan tilang tersebut kepada para pengendara sepeda motor.
Seorang  pengendara dihentikan di bagian paling belakang barisan, persis di gerbang masuk Indonesia Trade Center (ITC)  Cempaka Putih. Saya lalu mendekat dan mengutip dialog diantara polantas dan pengendara tersebut.
“Selamat sore pak”, kata petugas lantas pada pengendara itu. Petugas lantas kemudian mengeluarkan lembaran kertas dan pulpen dari balik celah antara sepatu dan celana cokelatnya.
 “Sore juga pak” jawab si pengendara.
“ Kendaraan anda harus kami tilang karena menerobos jalur cepat khusus mobil. “Anda tahu itu salah kan?”, Kata petugas lantas melanjutkan.
“Aduh pak, sorry tadi saya buru-buru mau ke priok”, si pengendara terlihat gugup.
Cukup lama saya mengutip percakapan diantara mereka. Si pengendara menolak identitas dan kendaraanya dicatat. Sedangkan petugas lantas berusaha untuk tetap profesional.
Tak lama berselang, si pengendara mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Entah itu SIM atau STNK, atau sesuatu yang lain. Belum nampak jelas.
“Aduh pak! Kita damai aja”, kata si pengendara sembari memberikan lembaran dari dalam dompetnya tadi. Ternyata lembaran tadi adalah uang. Tak begitu jelas berapa nilai rupiah yang diberikan. Namun, polantas menolak tawaran “uang damai” tersebut.
“Maksud anda apa?”, jawab polantas terheran-heran. “Anda mau membayar saya?” “Maaf pak, kendaraan anda tetap kami tilang”! kata polantas tegas.
Dengan sigap polantas mencatat nomor polisi sepeda motor tersebut dan memberikan surat yang dipegang di tangan kananya. Rupanya surat itu adalah surat tilang. Pengendara sepeda motor terlihat keberatan dengan profesionalisme polantas tadi. Namun apa boleh buat, itulah aturan yang sesungguhnya. Kendaraan tetap ditilang.
Solusi berdamai oleh pengendara tadi merupakan tindakan yang tidak bertanggungjawab. Perihal damai seperti ini tentu tidak indah, dan sangat memalukan! Seharusnya kesadaran berkendara dan tertib lalu-lintas harus sudah ditanamkan dalam diri setiap orang.
Jika polantas menerima sogokan, maka ia tidak professional. Jika si polantas berdamai karena uang, ia tidak berwibawa.
Namun, pada kasus ini, polantas mampu menunjukan profesionalitasnya sebagai seorang penegak hukum. Ia menolak berdamai karena uang, tetapi harus melalui proses hukum yang berlaku.
Memaknai cerita kejadian ini, bisa dipahami bahwa tak selamanya damai itu indah dan menyenangkan. Saya memetik pesan bahwa tak perlu salah menafsirkan sesuatu yang sebenarnya positif. Membalikan keadaan dari sesuatu yang sudah dianggap benar menjadi tindakan yang tidak terpuji adalah kesalahan besar. Semoga damai kembali pada kesungguhan maknanya.

Rofinus Sela Wolo
Share this article :

+ comments + 1 comments

March 4, 2022 at 7:51 PM

The Orleans Hotel & Casino - Mapyro
› maps › The-Olo › maps › The-Olo View detailed 3 photos 양주 출장마사지 of 포천 출장마사지 The Orleans Hotel & Casino, 김포 출장샵 including 3253 reviews, and 전라남도 출장마사지 find your way 전라남도 출장샵 around the casino, chevy restaurant, spa, casino,

Post a Comment

 
Contact Us : Facebook | Twitter | Feeds
Copyright © 2011. Himappen Jabodetabek - All Rights Reserved
Great Created by Creating Website Modify by Agaz Santiago
Proudly powered by Blogger